Kamis, 27 Oktober 2011

Sejarah Runtuhnya Daulah Islam


Dunia Islam Pada hari Senin tanggal 3 Maret 1924 (28th Rajab 1342AH), dunia dikejutkan oleh berita bahwa Mustafa Kemal di Turki secara resmi telah menghapus Khilafah. Pada malam itu Abdul Majid II, Khalifah terakhir kaum muslimin, dipaksa untuk mengemas kopernya yang berisi pakaian dan uang ke dalam kendaraan nya dan diasingkan dari Turki, dan tidak pernah kembali. Dengan cara itulah pemerintahan Islam yang berusia 1342 tahun berakhir.

Kisah berikut adalah sekelumit sejarah dari tindakan-tindakan kekuatan kolonialis dengan pertama kali menyebarkan benih perpecahan diantara kaum muslimin dengan menanamkan nasionalisme dan akhirnya mengatur penghancuran Daulah Khilafah melalui agen-agen pengkhianatnya. Beberapa bulan setelah penghancuran Khilafah tanggal 24 Juli 1924, kemerdekaan Turki secara resmi diakui dengan penandatanganan Traktat Lausanne. Inggris dan sekutu- sekutunya menarik semua pasukannya dari Turki yang ditempatkan sejak akhir PD I.

Sebagai reaksi dari hal ini, dilakukan protes pada Menlu Lord Curzon di House of Common karena Inggris mengakui kemerdekaan Turki. Lord Currzon menjawab, ” Situasinya sekarang adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, khilafah dan islam. ”

Sebagaimana diakui oleh Lord Curzon, Inggris bersama dengan Perancis memainkan peran penting dalam membagi-bagi tanah kaum muslimin diantara mereka. Rencana mereka melawan Khilafah bukanlah karena Khilafah berpihak pada Jerman pada PD I. Rencana ini telah dibuat ratusan tahun yang lalu yang akhirnya berbuah ketika Khilafah Usmani dengan cepat mulai merosot di pertengahan abad ke 18.

Usaha yang pertama untuk menghancurkan persatuan Islam terjadi pada abad ke 11 ketika Paus Urbanus II melancarkan Perang Salib I untuk menduduki Al-Quds. Setelah 200 tahun pendudukan, akhirnya pasukan salib dikalahkan di tangan Salahudin Ayyubi. Di abad ke 15 Konstantinopel ditaklukan dan benteng terakhir Kekaisaran Byzantium itupun dikalahkan.

Lalu pada abad ke 16 Daulah Islam menyapu seluruh bagian selatan dan timur Eropa dengan membawa Islam kepada bangsa-bangsa itu. Akibatnya jutaan orang Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan negara-negara lain memeluk Islam. Setelah pengepungan Wina tahun 1529 Eropa membentuk Aliansi untuk menghentikan expansi Khilafah di Eropa. Pada titik itulah terlihat bangkitnya permusuhan pasukan Salib terhadap Islam dan Khilafah, dan dibuatlah rencana- rencana berkaitan dengan “Masalah Ketimuran” seperti yang sudah diketahui.

Count Henri Decastri, seorang pengarang Perancis menulis dalam bukunya yang berjudul “Islam” tahun 1896: “Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kaum muslimin jika mereka mendengar cerita-cerita di abad pertengahan dan mengerti apa yang biasa dikatakan oleh ahli pidato Kristen dalam hymne-hymne mereka; semua hymne kami bahkan hymne yang muncul sebelum abad ke 12 berasal dari konsep yang merupakan akibat dari Perang Salib, hymne- hymne itu dipenuhi oleh kebencian kepada kaum muslimin dikarenakan ketidakpedulian mereka terhadap agamanya. Akibat dari hymne dan nyanyian itu, kebencian terhadap agama itu tertancap di benak mereka, dan kekeliruan ide menjadi berakar, yang beberapa diantaranya masih terbawa hingga saat ini. Tiap orang menganggap muslim sebagai orang musyrik, tidak beriman, pemuja berhala dan murtad. ”

Setelah kekalahan mereka, pasukan Salib menyadari bahwa kekuatan Islam dan keyakinannya adalah Akidah Islam. Sepanjang kaum muslimin berkomitmen dengan kuat pada Islam dan Qur ’an, Khilafah tidak akan pernah hancur. Inilah sebabnya di akhir abad ke 16, mereka mendirikan pusat misionaris pertama di Malta dan membuat markasnya untuk melancarkan serangan misionarisnya terhadap Dunia Islam. Inilah awal masuknya kebudayaan Barat ke Dunia Islam yang dilakukan para misionaris Inggris, Perancis dan Amerika. Para misionaris itu bekerja dengan berkedok lembaga-lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Awalnya akibat dari tindakan itu hanya kecil saja.

Tapi selama abad ke 18 dan 19 ketika kemunduran Khilafah mulai muncul, mereka mampu mengeksplotasi kelemahan negara dan menyebarkan konsep- konsep yang jahat kepada masyarakat. Di abad 19, Beirut menjadi pusat aktivitas misionaris. Selama masa itu, para misionaris mengeksploitasi perselisihan dalam negeri diantara orang Kristen dan Druze dan kemudian antara Kristen dan Muslim, dengan Inggris berpihak pada Druze sementara Perancis berpihak pada Kristen Maronit.

Selama masa itu para misionaris itu memiliki dua agenda utama: (1) Memisahkan Orang Arab dari Khilafah Usmani; (2) Membuat kaum muslimin merasa terasing dari ikatan Islam Tahun 1875 “Persekutuan Rahasia” dibentuk di Beirut dalam usaha untuk mendorong nasionalisme Arab diantara rakyat. Melalui pernyataan- pernyataan dan selebaran-selebaran, persekutuan itu menyerukan kemerdekaan politik orang Arab, khususnya mereka yang tinggal di Syria dan Libanon.

Dalam literaturnya, mereka berulangkali menuduh Turki merebut Khilafah Islam dari orang Arab, melanggar Syariah, dan , mengkhianati Agama Islam. Hal ini memunculkan benih-benih nasionalisme yang akhirnya berbuah pada tahun 1916 ketika Inggris memerintahkan seorang agennya Sharif Hussein dari Mekkah untuk melancarkan Pemberontakan Arab terhadap Khilafah Usmani. Pemberontakan ini sukses dalam membagi tanah Arab dari Khilafah dan kemudian menempatkan tanah itu di bawah mandat Inggris dan Perancis.

Di saat yang sama, nasionalisme mulai dikobarkan diantara orang Turki. Gerakan Turki Muda didirikan tahun 1889 berdasarkan nasionalisme Turki dan dapat berkuasa tahun 1908 setelah mengusir Khalifah Abdul Hamid II. Pengkhianat Mustafa Kamal yang menghapus Kekhalifahan adalah anggota Turki Muda. Inilah alasanya mengapa Kemal kemudian berkata: ”Bukankah karena Khilafah, Islam dan ulama yang menyebabkan para petani Turki berperang hingga mati selama lima abad? Sudah waktunya Turki mengurus urusannya sendiri dan mengabaikan orang India dan orang Arab. Turki harus melepaskan dirinya untuk memimpin kaum muslimin. ”

Disamping aktivitas yang dilakukan oleh misionaris Inggris dan Perancis, bersama dengan Rusia mulai dilakukan penjajahan langsung di banyak bagian Dunia Islam. Ini dimulai selama pertengahan abad 18 ketika tahun 1768 Catherine II dari Rusia berperang dengan Khilafah dan dengan sukses dapat menduduki wilayah di Selatan Ukraina, Kaukasus Utara, dan Crimea yang kemudian dijadikan bagian dari Kekaisaran Rusia. Perancis menyerang Mesir dan Inggris mulai menduduki India.

Di Abad ke 19 Perancis menduduki Afrika Utara dan Inggris menduduki Mesir, Sudan, dan India. Sedikit demi sedikit wilayah Khilafah menjadi berkurang hingga akhir PD I ketika apa yang tersisa hanyalah Turki, yang diduduki oleh pasukan sekutu dibawah perintah Jendral Inggris yang bernama Charles Harrington.

Pemecahan tanah Khilafah dilakukan dalam sebuah perjanjian rahasia yang dilakukan antara Inggris dan Perancis tahun 1916. Perjanjian itu adalah Perjanjian Sykes-Picot. Rencana ini dibuat diantara diplomat Perancis bernama François Georges-Picot dan penasehat diplomat Inggris Mark Sykes.

Di bawah perjanjian itu, Inggris mendapat kontrol atas Jordania, Irak dan wilayah kecil di sekitar Haifa. Perancis diberikan kontrol atas Turki wilayah Selatan- Timur, Irak bagian Utara, Syria dan Libanon. Kekuatan Barat itu bebas memutuskan garis perbatasan di dalam wilayah Khilafah itu. Peta Timur Tengah saat ini adalah garis- garis yang dibuat Sykes dan Picot dengan memakai sebuah penggaris di atas tanah yang dulunya adalah wilayah Khilafah.

Tahun-tahun berlanjutnya kehancuran Khilafah, Inggris memainkan peranan kunci dengan cara memelihara agennya Mustafa Kamal. Melalui sejumlah maneuver politik dengan bantuan Inggris, Mustafa Kamal mampu menjadikan dirinya berkuasa di Turki.

Tahun 1922, Konperensi Lausanne diorganisir oleh Menlu Inggris Lord Curzon untuk mendiskusikan kemerdekaan Turki. Turki pada saat itu adalah di bawah pendudukan pasukan sekutu dengan institusi Khilafah yang hanya tinggal nama. Selama konperensi itu Lord Curzon menetapkan empat kondisi sebelum mengakui kemerdekaan Turki. Kondisi-kondisi itu adalah: (1) Penghapusan total Khilafah : (2) Pengusiran Khalifah ke luar perbatasan; (3) Perampasan asset-aset Khilafah : (4) Pernyataan bahwa Turki menjadi sebuah Negara Sekuler Suksesnya Konperensi itu terletak pada pemenuhan keempat kondisi itu. Namun, dengan tekanan asing yang sedemikian itupun, banyak kaum muslimin di dalam negeri Turki masih mengharapkan Khilafah, yang telah melayani Islam sedemikan baiknya selama beberapa abad dan tidak pernah terbayangkan bahwa Khilafah bisa terhapus. Karena itu, Lurd Curzon gagal untuk memastikan kondisi-kondisi ini dan konperensi itu berakhir dengan kegagalan. Namun, dengan liciknya Lord Curzon atas nama Inggris tidak menyerah.

Pada tanggal 3 Maret 1924 Mustafa Kemal memakai kekuatan bersenjata dan menteror lawan-lawan politiknya sehingga mampu menekan melalui Undang-undang Penghapusan Khilafah yang memungkingkan terhapusnya institusi Khilafah. Untuk kekuatan kolonialis, penghancuran Khilafah tidaklah cukup. Mereka ingin memastikan bahwa Khilafah tidak pernah bangkit lagi dalam diri kaum Muslimin.

Lord Curzon berkata, “Kita harus mengakhiri apapun yang akan membawa persatuan Islam diantara anak-anak kaum muslimin. Sebagaimana yang kita telah sukses laksanakan dalam mengakhiri Khilafah, maka kita harus memastikan bahwa tidak pernah ada lagi bangkitnya persatuan kaum muslimin, apakah itu persatuan intelektual dan budaya. ”

Karena itu, mereka meberikan sejumlah rintangan dalam usaha menegakkan kembali Khilafah seperti: 1. Pengenalan konsep-konsep non- Islam di Dunia Islam seperti patriotisme, nasionalisme, sosialisme dan sekularisme dan mendorong gerakan politik kolonialis yang berdasarkan ide- ide ini. 2. Kehadiran kurikulum pendidikan yang dibuat oleh kekuatan penjajah , yang masih tetap bercokol selama 80 tahun, yang membuat mayoritas kaum muda yang lulus dan ingin meneruskan pendidikannya ke arah yang bukan islam

Sabtu, 01 Oktober 2011

Dance of the Waves




Tawa kecilmu seirama dengan keceriaan ombak yang hampir tiap minggu pagi kita saksikan bersama nak. Namun yang hadir kini hanyalah subjudul cerita yang beralur mundur dan selalu umi buka. Hanya kata-kata maaf yang mampu mengalun dari lisan umi, maaf karena seringkali umi merasa tak ikhlas melepasmu pergi di usiamu yang hanya sependek semburat jingga di pantai sore itu. Tapi umi tak berhak jika meminta Allah agar kau menemani umi sampai umi dipanggil lebih dulu. Yakinlah nak, kau adalah hadiah terindah dalam pertemuan singkat kita...
Tiga tahun empat bulan bukanlah waktu yang lama untuk memelukmu dengan seluruh kesabaran dan rasa sayang yang umi punya. Meski sebenarnya umi merasa tertimbun oleh kehendak yang Allah tuliskan kepada kita, namun kita tidak boleh menyerah, kita harus tetap semangat. Walaupun yang tertinggal kini adalah sisa tangisan umi yang tertahan oleh semangatmu. Nak, tunggu umi di surga nanti.
@@@
“Ini namanya apa mi?.” Tanya bidadariku. Tangan mungilnya mengelus-elus sebuah buku yang ia ambil dari rak buku.
”Itu buku sayang.”
“Buku apa mi?.”
“Buku referensinya umi kemarin waktu kuliah.”
“Aku pengen buku ini mi.”
“Oh, Nada juga mau? Oke besok kita beli sama-sama ya. Oya, kita harus cepet nih sayang, nanti keburu bis ke rumah sakit lewat, ayo mana kerudungmu?.”
Tangan lincahnya yang lemah memakai kerudung pink dengan hiasan telinga kelinci di atasnya. Nada kecilku sayang. Namun dalam kecerahan pagi ini, ada sesuatu yang membelalak di hatiku. Sejak dua bulan ini badannya mulai kurus, kering, kecil. Berat badannya turun drastis, lima kilo. Perutnya buncit. Wajahnya putih pucat, pipi tembemnya mulai menyusut. Hidungnya melesak ke dalam, kebanyakan orang mengenalnya sebagai facies cooley.
Anakku... Aku mulai takut. Dua bulan yang lalu dengan terpaksa aku mendengar dokter mengatakan ia terkena Thallasemia mayor. Satu-satunya pengobatan yang mampu memperlama usahaku untuk bersamanya hanyalah transfusi darah, dengan resiko penimbunan zat besi dan limpanya akan membengkak.
“Kita mau naik bis lagi Nad.”
“Naik bis kayak kemarin lagi itu ya mi?.”
“Iya sayang.”
“Ke rumah sakit itu lagi?.”
“Iya.”
“Nggak mau mi, Nada nggak mau. Nada mau di rumah mi...” Rengeknya menahan tangis. Butiran-butiran bening khas anak-anak mengalir dari kedua matanya.
“Lhoh kok nggak mau kenapa sayang? Nanti habis dari rumah sakit kita beli es krim di toko yang banyak balonnya itu, gimana?.”
“Hu..hu..pokoknya di rumah mi (Kakinya menghentak-hentak ke lantai beberapa kali). Nada mau di rumah nungguin abi pulang, hu...hu... nggak mau disuntik lagi, masak disuntik terus...hu..hu..” Tangannya mengusap-usap matanya yang mulai banjir oleh air mata.
Nak, sebenarnya umi pun menangis melihatmu sedih seperti ini. Umi tak ingin kau harus tiap bulan berkunjung ke dokter hanya untuk menyedot darah orang dan membiarkan umi melihat dokter memperlama waktumu bersama umi, dengan ajal yang sudah menantimu di depan mata. Umi ingin kau sehat nak. Umi tak kuat melihat wajahmu pucat seperti ini. Tapi umi tak bisa jika menuruti kemauanmu. Duh, anemia, andai kau mampu mengerti Nada masih terlalu lugu untuk menderita penyakit itu.
“Nada sayang. Nada mau sehat nggak?.” kataku, menghapus air matanya. Ia mengangguk.
“Nada pengen ke pantai kan? Pengen makan ikan lagi? Pengen mancing lagi sama abi kan? Makannya Nada harus ke dokter. Nanti kalo abi nggak mau ngajak Nada gara-gara Nada sakit, siapa yang sedih?”
“Haaa....” tangisnya semakin meledak.
“Eh sayang, anak shalihah kok nangis sih? Sini-sini umi gendong yuk.”
“cup..cup... Aduh beratnya anak umi ini. Nada capek ya sekarang? Kalo gitu gimana kalo kita ke rumah sakitnya besok kalo Nada udah nggak capek aja? Habis itu kita langsung beli es krim. Nada belum nyicipin es krimnya temen umi kan? Heum.. enak, umi udah pernah nyoba lho. Besok kita coba ya!.” Meski masih sembap dengan air mata, anak itu mengangguk.
“Ya sudah, tadi Nada belum jadi mandi kan? kita mandi yuk!”
“Bebek kuning diajak ya mi.”
“Oke.”
@@@
Annada Handanu, anak pertamaku. Sengaja aku beri nama Annada yang di dalam kamus bahasa arab berarti embun. Saat aku kepayahan mengeluarkannya dari rahimku, aku berdo’a agar anakku selalu seperti embun, menyejukkan bagi siapapun yang menatapnya. Handanu adalah gabungan namaku dan nama suamiku, Hayunda Dewi dan Danu Sutanto.
Aku menikah tepat seminggu setelah diwisuda dari S1-ku di Universitas Ternama Negri ini. Di usiaku yang ke 22, Allah mempertemukanku dengan mas Danu yang usianya saat itu menginjak 27 tahun. Atas dasar prinsip, kami menikah bukan karena cinta, tetapi karena keinginan kuat untuk mencari ridho Allah, dan dengan jalan dipertemukan oleh sahabat akrab kami sebulan sebelum pernikahan itu berlangsung. Keputusan yang terlalu cepat, biarlah. Bahkan saat duduk di kursi pelaminan pun, rasa cintaku kepada mas Danu yang ku nantikan tak juga muncul. Ucapan selamat dari tamu undangan serasa hambar. Acara walimatul’ursy yang ku setting terpisah dan meriah itu, serasa menusuk lumbung hatiku. Ah, entahlah, aku hanya ingin menyempurnakan setengah dari agama ini dengan orang sebaik mas Danu. Dan separuhnya lagi ketaanku kapadaNya dan kepadanya.
Setelah seminggu melalui hari bersama, ternyata disaat itulah benih-benih asmara kami mulai bersemaian. Perhatian yang ditunjukkan mas Danu bagaikan hujan kebahagiaan di musim kemarau. Sebelum menutup hari, kami selalu bercerita tentang masa lalu kami. Setiap pagi, mas Danu selalu membangunkanku dengan candaannya yang khas.
Mas Danu adalah sosok yang dewasa, baik, shalih, ganteng, lagi mapan. Aku ingat waktu itu dia pernah berkata “Hay, aku sebagai seorang nakhoda tentunya sering limbung menghadapi badai yang tiba-tiba. Apapun badainya, kita harus saling menguatkan Hay.” Aku hanya menjawab dengan senyuman termanis yang tak pernah merekah sebelumnya.
Gajinya dari bekerja sebagai staf pengajar di Perguruan Tinggi lumayan memenuhi kebutuhan kami, bahkan mungkin hingga kami beranak tiga nanti. Aku tak merasa tertipu oleh ketampanan beliau. Tubuhnya yang gagah, perwakannya yang menawan, hampir mendekati kesempurnaan, meski tak pernah ada kesempurnaan. Kharisma dan kewibawaan menjadi pelengkapnya yang paling utama. Sungguh, aku merasa beruntung dipertemukan dengannya. Allah memang selalu memberikan yang terbaik. Hingga akhirnya dengan tiba-tiba badai itu datang di antara langit yang membiru, menerjang tanpa permisi, tanpa kuduga sebelumnya.
“Mas, tadi Nada nggak jadi ke dokter. Aku tak mau memaksanya. Mungkin besok pagi aku akan membujuknya lagi.” Kataku sambil menyodorkan secangkir kopi setelah mas Danu selesai mandi malam itu.
“Hay, bagaimanapun juga aku pernah belajar genetika. Aku tahu, Thallasemia itu penyakit genetis. Dari keluargaku tidak ada yang membawa gen itu. Begitu pula dengan keluargamu bukan?.” Mas Danu berkata tenang, tapi seakan sedang terjadi petir di telingaku. Aku menggeser kursi ke belakang dan duduk di samping kanan mas Danu, sedikit mulai serius.
“Benar mas, aku dan mas bukan pembawa gen itu. Tapi bukankah Allah Maha berkehendak?.” Mencoba menenangkan suasana dengan minum kopi panas buatanku sendiri.
“Maaf Hay... aku benar tak bisa terima ini.”
“Maksudmu apa mas?.”
“Hay, aku menikahimu karena kebaikan agamamu, kebaikan keluarga dan keturunanmu, aku menikahimu karena kecantikanmu, dan aku menikahimu karena hartamu. Kau ini adalah istri yang baik, kau cucikan bajuku setiap hari, kau bersihkan rumah ini agar ketika aku pulang semuanya sudah beres. Kau urus anak itu, bahkan hingga dirimu sendiripun tak kau urus.  Satu yang kuminta saat ijabku dikabulkan oleh ayahmu dulu, aku menginginkan kau menjadi benteng pertahanan nafsuku untuk yang petama dan terakhir kalinya, jagalah kehormatan suamimu.”
“Astaghfirullah...mas menuduhku selingkuh?” Aku mulai terisak. Mataku mulai tegang, lalu dengan tanpa paksaan mengucurkan air mata di malam yang sepi itu. Saat Nada yang begitu bersih dari keonaran dunia ini tertidur pulas dengan muka putih pucat. Dan perut yang mulai terlihat membuncit. Aku mengintipnya dari ruang tengah.
Mas Danu menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya. “Aku butuh waktu Hay, aku butuh waktu untuk menerima ini semua. Bahkan mungkin akan berbulan-bulan.”
“Mas...” Kata-kataku serasa tertahan oleh rasa sakit dari leher karena tangisanku. Sepertinya mas Danu tak mengharapkan penjelasan lagi. Ia bergegas masuk ke kamar. Mengeluarkan ranselnya. Menata baju kerjanya, dan yang terakhir seluruh kertas-kertas arsipnya mengajar.
Ruang tengah serasa mengutukku. Cicak dinding yang biasa bernyanyi, kini tak terdengar suaranya, bahkan terlihat pun tidak. Mungkinkah aku ini istri durhaka? Allahu akbar... apa yang sudah aku lakukan sehingga membuat suamiku murka seperti ini. Bahkan sampai cicak pun sama marahnya dengan suamiku.
Aku mendatangi sosok yang kini bermuka dingin itu. Aku duduk di ranjang disampingnya merapikan baju-bajunya.  “Mas, aku tak pernah menduga ini sebelumnya. Aku tak pernah menghianatimu, aku selalu menjaga cintaku hanya untuk mas.”
“Sudah kubilang Hay, aku hanya butuh waktu. Tolong biarkan aku pergi sebentar.”
“Mas mau kemana? Tidakkah mas melihat Nada sedang sakit?.”
“Masya Allah mas, apa mas mau meninggalkan Nada dengan suhu tubuh yang meninggi seperti ini?. Mas...”
Mas Danu tetap diam. Tenang tapi dingin. Aku tak pernah melihat mas Danu seperti ini. Semua seperti telah berubah, porak poranda. Ketampanan, kebaikan, kejernihan berfikir, dan perhatian yang dulu diberikan mas Danu seperti terkubur oleh kepedihanku dan diriku yang sebentar lagi akan ditinggalkannya. Aku sesenggukan menangis. Setelah packing selesai, mas Danu bergegas pergi. Lalu masuk kamar lagi. Aku berharap dia berubah pikiran.
“Jaketku.” Ku ulurkan jaket hitam yang berubah menjadi pirang karena paparan matahari.
“Mas, tolong jangan pergi malam ini. Nada sakit mas.” Aku mengikutinya sampai depan pintu kamar. Namun, dia tak berbalik arah.
“Mas Danu...Allahu akbar.”
Mas Danu tetap melangkah pergi sampai menghilang dari pandanganku di balik pintu depan. Ia menutup pintu dan langsung memutar kunci dari luar. Air mataku mengucur deras. Mendengar kunci pintu diputar menjadi saat-saat paling menyakitkan malam ini. Terlebih tanganku meraba suhu tubuh Nada semakin meninggi. Ia tidur dengan merintih menahan sakit. Sesekali terlihat seperti menangis dalam tidurnya. Apa yang harus ku lakukan dengan ketiadaan suami seperti ini. Ya Allah...apa yang harus kulakukan. Menelpon ibu, ibu mertua, ayah? Ya kurasa itu tindakan paling baik untuk saat ini.
Kucari no rumah ibu dari daftar telephon di HP ku. Masya Allah, bukannya telephon rumah baru saja tersambar petir sebulan yang lalu?. Ibu mertua, ah jangan. Apa yang harus aku katakan jika ia bertanya kemana mas Danu. Pasti ia pun akan memaki-maki jika aku keceplosan cerita masalah yang sesungguhnya. Lalu apa? Apa mungkin dikompres dulu sampai pagi datang? Ya benar.
“Nak... Nada, anakku... bertahanlah, setidaknya untuk malam ini. Umi akan mengompresmu.”
Berkali-kali aku mengganti kompres di kepalanya. Bolak-balik kamar dapur untuk menggantikan airnya. Sampai aku merasa lelah. Sampai air mataku mengering, dan rasa kantuk sudah tak bisa ditawar lagi. Bergelayut di keningku.
Malam-malam sebelumnya, aku berusaha menahan kantuk karena menunggu mas Danu pulang, dan menyiapkan makan malam untuknya. Setelah itu baru bergegas tidur. Namun sekarang, siapa yang aku nantikan? Orang yang ku nantikan justru pergi lima menit yang lalu. Biasanya ada bahu mas Danu yang mampu menenangkan tangisku, pun saat aku dimaki-maki ibu mertua karena aku dianggap lalai mengurus mas Danu. Namun sekarang, hanyalah bantal yang basah karena air mataku. Perlahan kepalaku terasa berat. Lalu semburat tak jelas mulai bermunculan dihadapan mataku yang membengkak. Aku telah tertidur dengan cicak yang membisu dan marah padaku malam ini.
@@@
Hari ini dimulai saat pagi masih buta dengan asa yang berkobar dari sinar mentari yang sebentar lagi akan terbit. Nafas kehidupan mulai terdengar begitu adzan subuh berkumandang. Dapur-dapur milik warga mulai ribut. Ayam-ayam berkokok sedari tadi, berlomba-lomba membangunkan pemiliknya. Mataku memar karena tangisku malam tadi. Sebagaimana pagi biasanya, aku langsung mengambil air wudhu, lalu shalat subuh. Setelah itu baru memulai aktivitas di dapur. Tapi kenapa hari ini aku harus memasak? Mas Danu tak berada di rumah, mau makan rasanya pun tak enak. Lalu kuputuskan untuk berbaring di dekat Nada yang masih tertidur.
“Masya Allah, badannya semakin panas. Paru-parunya memompa oksigen semakin cepat.” Apa yang harus kulakukan? Kira-kira jam dua dini hari tadi aku telah memaksanya meminum obat dari dokter sisa berobat minggu lalu. Sejam kemudian panasnya turun. Sekarang meninggi lagi. Hari ini masih terlalu pagi untuk membawa Nada ke dokter. Klinik dokter baru buka jam delapan. Mungkin aku akan mencoba menelpon mas Danu.
“tut...tut...tut...” Suara khas menunggu panggilan diangkat. Namun tak ada juga jawaban. Sekali lagi...dua kali lagi...tiga kali lagi... Sampai aku bosan memencet nomor yang sama. Mungkin dengan SMS, pesanku akan terbaca.
Aku menekan tombol demi tombol seakan jari-jari tanganku tengah berlomba-lomba dengan waktu.
Assalamu’alaikum. Mas, boleh mas murka kapada istrimu yang dzalim ini. Tapi jangan dengan anakmu. Ada nama dan darahmu pada anak itu. Nada sakit mas. Suhu tubuhnya meninggi sejak tadi malam. Hayu berharap mas Danu segera pulang. Hayu nggak bisa menghadapi ujian ini sendirian. Wassalamu’alaikum.
Mesage sent. Tinggal menungu balasan dari mas Danu. Untuk meyakinkanku, kuforward SMS itu hampir tujuh kali.
Mentari sudah mulai tersenyum meski tertutup oleh awan tipis. Aku kembali berbaring di samping Nada. Ternyata keributanku cukup membuatnya terusik. Perlahan ia membuka matanya. Aku berpura-pura memejamkan mata.
“Mi... Nada mau pipis.”
“Oh, Nada mau pipis. Yuk bangun!.” Dengan masih menyimpan rasa malas, bidadariku ini bangun. Matanya belum terbuka secara sempurna. Ia berjalan ke kamar mandi sempoyongan.
“Abi mana?.”
“Abi sudah pergi sayang.”
“Mi, besok minggu ke pantai ya mi.”
“Ke pantai?.”
“Iya mi. Nada pengen ketemu temen Nada di pantai.”
“Teman? Sejak kapan kau punya teman di pantai nak?.”                    
“Itu mi, yang gulung-gulung itu.”...“Sudah.” Ia berjalan kembali ke kamar.
“Nada mau makan apa hari ini?.”
“Nada pengen makan udang goreng mi.” Aneh, Nada memang salah satu penyuka olahan laut, namun ia sama sekali tak pernah minta udang, apalagi udang goreng.
“Pagi-pagi begini dimana umi dapet udang nak?.”
“Di warungnya Pak Min ada mi.” Aku mulai melihat ketidak wajaran dari anakku ini. Kau tak seperti biasanya nak?.
“Oke, nanti kalau pak Min udah buka, biar umi beliin ya. Sekarang Nada minum obat dulu.” Anak itu mengangguk.
Lima menit, sepuluh menit, duapuluh menit, tigapuluh menit, satu jam...
Nada tak juga tidur. Otot di leherku terasa kaku. Sekali lagi aku merasakan ganjil pada anak ini. Biasanya setelah bangun tidur ia bertanya ini itu. Tetapi sekarang hanya diam. Ah, mungkin karena dia lagi sakit.
“Mi...”
“Iya, kenapa sayang.”
“Itu ada yang duduk di atas meja kok nggak umi marahin sih? Biasanya kalau Nada yang duduk, umi langsung marah-marah.” Aku melihat ke atas meja. Tak ada siapapun. Hanya meja yang sedikit berantakan karena kertas-kertas mas Danu tadi malam.
“Siapa? Nggak ada kok.”
“Ada umi...itu. Orangnya lagi melihat Nada.”
“Sayang, umi nggak lihat. Katakan nak, siapa orang itu, biar nanti umi marahin.”
“Yah, orangnya udah pergi mi.”
“Pergi kemana?.” Nada diam. Tubuhnya yang pucat menggelepar kesana kemari.
“Nada pusing ya?.”
“Iya mi. Rasanya muter-muter kayak waktu kita naik kuda-kudaan sama abi.”
“Sabar ya nak. Nanti kita ke dokter.”
“Mi, telpon abi.”
“Telpon abi?.” Nada mengangguk. Aku meraih Handphone dengan hasil yang sudah bisa ku tebak. Mas Danu tidak akan mengangkat telponku. Ayolah mas... angkat telponnya, sekali ini saja.
“Nggak diangkat nak. Coba sekali lagi ya.” Hasilnya sama. Tak ada jawaban dari mas Danu. Aku bermaksud mengirim pesan kepadanya lagi. Ditengah tanganku beradu dengan keypad Handphone...
“Mi, Nada sayang umi...Umi sayang Nada nggak.”
“Masya Allah Nada, anakku, embunku...kenapa kau tanya seperti itu? tentu umi sayang Nada. Sayang banget.” Kau tak pernah bertanya seperti ini sebelumnya nak.
“Abi juga sayang Nada?.”
“Pasti sayangku, abi sama sayangnya kayak umi.”
“Mi, katanya tadi mau ke dokter ya? Kok umi belum mandi sih?.”
“Oiya, sekarang sudah jam setengah delapan. Umi mandi dulu ya.” Anak itu mengangguk. Ia melihatku sampai pandangannya terhalang tembok kamar. Aku merasakan aneh. Sungguh aneh. Ah, semoga bukan pertanda buruk. Aku harus cepat-cepat mandi.
Selesai mandi aku segera menuju ke kamar. Sepertinya Nada tidur lagi. Biarlah, aku akan memaksanya bangun setelah aku selesai berdandan.
“Innalillahi...kok badannya dingin semua?.” Aku meraba seluruh badannya, dari atas sampai bawah. Dingin. Allahu akbar. Ku lihat dadanya sudah tak bergerak memompa oksigen. Ku raba nadinya, tak ada detakan. Laailahailallah... Nada...
Aku ciumi pipinya yang terasa dingin itu. Untuk kesekian kalinya, mataku memutahkan air mata. Allahu akbar...Nada...”Nak bangun. ayo kita kan mau kedokter nak...umi sudah siap...bangunlah nak...” Kataku meronta-ronta sambil berlinang air mata. Aku cium pipinya seperti kebiasaanku membangunkannya. Berharap dia bangun lagi. Aku paksa matanya untuk membuka, namun tetap menutup. Aku bopong dia, namun anak yang kubopong tak ubahnya patung bernama manusia yang tak bernyawa lagi. ”Ya Allah... Nak... bangunlah...” Percuma. Raga yang telah meninggalkan jasad tidak akan kembali lagi. Untuk yang terakhir kali, aku peluk Nada erat. Aku ciumi dia. Tak sepatah kata mampu keluar, sementara air mataku yang keluar. Lalu aku berlari keluar rumah. Berteriak memanggil orang yang tertangkap oleh mataku.
“Paaaaaaaaaak... tolong Nada paaaaaaaaak...”
“Kenapa Nada bu Hayu?.” Lidahku kelu, tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Pak Asman memanggil yang lain. Sementara aku berlari kembali ke dalam rumah. Nada, ayo menangis. Seperti tangisanmu saat kau bangun tak mendapati umi, lalu umi berlari menolongmu...
Mas Danu pulang sekitar jam setengah sepuluh pagi,
empat jam setengah sebelum Nada ditimbun tanah...
Pemakaman selesai hari ini...
@@@
Aku belum bisa berkata apapun. Pun kepada mas Danu. Keberadaan orang itu saat ini seperti godam yang semakin memukul-mukul dukaku. Dia membiarkanku. Sesekali menawarkan makan. Tapi makanan serasa pasir di lidahku. Tak enak. Sehari ini aku malas beraktivitas. Cucian baju masih menumpuk. Setrikaan baju mas Danu masih teronggok begitu saja di atas meja setrika. Rasanya malas berkomunikasi dengan mas Danu. Seharian yang kulakukan hanya berbaring di atas ranjang tempat Nada menghembuskan nafas terakhirnya. Tempat dimana Nada melihat seseorang yang duduk di atas meja, dan ternyata itu adalah malaikat yang diutus Allah untuk menjemputnya. Nadaku...
“Mau sampai kapan kau seperti ini Hay?.” Terdengar suara mas Danu dari balik tembok. Aku diam. Sebagia orang yang pernah merasa kecawa, tentu mas Danu paham dengan perasaanku saat ini...
@@@
“Aku mau ke pantai mas.” Ini kata-kata pertama yang ku ucapkan kepada mas Danu, setelah tiga hari kepergian Nada.
“Sendirian?.” Aku diam. Langsung bergegas pergi.

Semilir angin pantai pagi itu...
Membawa ingatanku kepada embun kecilku. Hari ini dia mengajak untuk pergi ke pantai. Makan udang, makan sate. Memancing ikan di empang. Ah...namun semua telah didahului kehendak Allah. Ombak bergulung bergantian dan tak pernah berhenti.
Nada, kau seperti tarian ombak itu nak. Meski kau tak lagi mampu melangkah di atas pasir pantai ini, tapi rasa sayang umi selalu ada untukmu. Nak, hari ini hari minggu. Umi sudah mengantarmu ke pantai. Namun, yang umi lihat hanyalah ombak yang kau maksud temanmu limabelas menit sebelum kepergianmu. Inilah teman yang kau tinggalkuan untuk umi, kini menari-nari dihadapan umi. Membelai lembut pipi umi, sebagaimana belaian tanganmu sewaktu kecil. Nak, biarlah ombak ini yang akan melarung kesedihan umi. Biarlah tarian ombak ini akan menggantikanmu di dunia ini, meskipun engkau tak pernah tergantikan.
Tiba-tiba datang seseorang dan langsung duduk di sebelah kananku. Seseorang yang memakai kaos lengan panjang hitam yang sengaja ditarik hingga diatas siku tangannya. Sosok yang dulu selalu menyediakan bahunya untukku. Sosok yang menenangkan, meski hanya menatapnya sekilas. Sosok yang beberapa hari yang lalu menuduhku selingkuh.
“Hay...” katanya menyapaku. Namun, aku hanya sedikit menoleh ke hadapannya. Ia ulurkan tangan kirinya ke atas pundakku. Dan seketika itu pula aku langsung bersandar di pundaknya. Lagi, aku yang lemah menangis. Lemah ketika berhadapan dengan lelaki itu.
“Hay... maafkan aku. Aku adalah orang yang beruntung mendapatkan istri seistimewa kau. namun aku adalah orang paling malang karena memiliki pikiran yang buruk tentangmu. Aku sungguh terpukul Nada sudah tiada, namun dukaku dan dukamu tentu lebih parah dukamu. Hay, Aku benar-benar orang bodoh yang semakin dibodoh-bodohkan oleh emosiku...Sekali lagi maafkan akau Hay.”mas Danu menghela nafas. Aku mendengarkannya, pandanganku menerawang bebas ke atas lautan.
Aku ceritakan semuanya. Semua yang terjadi setelah kepergian mas Danu sampai kepulangannya saat Nada sudah tak lagi bernafas. Serasa apa yang tertahan beberapa hari ini lepas.
 “Menangislah Hay, jika kau ingin menangis. Marahlah kepadaku jika kau ingin marah...”
“Setelah aku meninggalkan rumah waktu itu, aku langsung menuju rumah Trisna. Di sana aku bermalam. Tenang, aku tak cerita tentang masalah kita berdua. Aku hanya menceritakan kepadanya bahwa aku tak bisa masuk rumah karena pintunya kau kunci. Sedangkan aku tak berani membangunkanmu. Paginya, saat kau mengirim pesan kepadaku untuk pulang, aku sedang berada di rumah dr. Haryono, pembimbing skripsiku dulu...”
“Di rumah dr. Haryono aku mendapat banyak informasi tentang penyakit Nada itu. Thallasemia apalagi Thallasemia Mayor diturunkan dari kedua parental pembawa gen thallasemia. Tapi dr. Haryono menguatkanku. Beliau bercerita bahwa pernah terjadi kasus serupa dengan kita. Sampai akhirnya anak itu meninggal. Padahal kedua orangtuanya normal...”
“Aku jadi berfikir, bahwa apa yang kau katakan adalah benar. Namun, aku harus mencari pembenaran lagi untuk memperkuat apa yang kau katakan itu. dr. Haryono semakin menguatkanku. Beliau mengatakan, apapun yang Allah kehendaki terjadi itu pasti terjadi. Kun Fa Ya kun. Bahkan sesuatu yang tak mungkin terjadi, ketika Allah berkehendak, tak satupun kekuatan yang mampu menghalanguinya. Hay, dengan cara seperti inilah Allah memanggil Nada. Dengan cara sepeti inilah Allah menguji kita, dan memberikan kesempatan kepada kita untuk mencicipi manisnya rasa cintaNya, juga kepada Nada...”
“Mas, aku mencintaimu...maafkan aku karena tak mampu menjaga Nada.”
“Justru aku yang harusnya merasa bersalah dan harus minta maaf. Ingat Hay, semua sudah dikehendaki Allah, semua yang kita dapat sudah tertoreh di kitab yang hanya Allah yang mengetahuinya. Maafkan aku, karena membiarkanmu berjuang sendiri menemani Nada disaat detak jantungnya yang terakhir. Maafkan aku karena telah membuatmu menangis...”
“Mas...” aku semakin terisak.
“Belum terlambat Hay, kita masih punya ladang untuk kita semai bersama. Kita masih muda. Masih banyak embun harapan yang akan senantiasa menetes. Kita mulai semuanya lagi. Penyakit yang diderita Nada bukanlah kelainan genetis, itu artinya keturunan kita yang kedua sangat mungkin normal.”
Pagi ini langit terlihat cerah. Dukaku terkikis oleh semangat yang baru saja diguyur mas Danu. Semangat yang sangat kunantikan beberapa hari ini. Inilah mas Danu yang ku kenal dulu. Mas Danu yang selalu tenang terhadap kondisi apapun.
Nada, anakku...Umi dan Abi akan selalu mengukir jejakmu nak. Jejak anak berusia tiga tahun empat bulan yang telah menghias rumah umi dan abi. Kau akan selalu menjadi embun yang menenagkan hati umi dan abi, pun orang lain.
Tiba-tiba lagu yang dinyanyikan oleh Celine Dion seperti menggema di telingaku...





Every night in my dreams
I see you. I feel you.
That is how I know you go on

Far across the distance
And spaces between us
You have come to show you go on

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you’re here in my heart
And my heart will go on and on

Love can touch us one time
And last for a lifetime
And never go till we’re one

Love was when I loved you
One true time I hold to
In my life we’ll always go on

Near, far, wherever you are
I believe that the heart does go on
Once more you open the door
And you’re here in my heart
And my heart will go on and on

There is some love that will not
go away

You’re here, there’s nothing I fear,
And I know that my heart will go on
We’ll stay forever this way
You are safe in my heart
And my heart will go on and on

@@@





Hasil petualangan dalam rimba Imajinasi saat kuliah Dasar-Dasar Genetika (Pak Tukidjo, maaf. aku harus mengalihkan pikiranku gara-gara gen thallassemia yang bapak jelaskan itu. semoga bapak ridho...huhuhu).
Tetesan air mata ibu P yang ditinggal mati anaknya -Adiknya Mas Qomar- (yang sabar ya budhe, setiap jiwa yang hidup pasti akan mati...)