Rabu, 25 Januari 2012

Valentine? Ngapain Diributin?



Ngomongin dunia remaja emang nggak pernah ada habisnya. Termasuk yang satu ini nih, pas memasuki bulan Februari. Anak baru gedhe yang katanya lagi sibuk mencari jati diri ini dibikin ribut sendiri. Mulai dari pusat kota sampai pelosok desa semua ikut-ikutan ribut. 

Pusat-pusat perbelanjaan bersiap-siap dengan pernak-pernik khasnya yang dodominasi warna pink, putih dan biru lembut. Para penjual balon berbentuk hati, bantal beludru, dan boneka beruang yang tengah membawa hati berwarna merah bertuliskan “be my valentine” nggak mau kalah saing. Pelajar di sudut desa juga telah siap dengan coklat dan kartu ucapannya.

Seperti nggak mau ketinggalan moment, stasiun teve pun mulai sibuk dengan berbagai ragam acara. Mulai dari konser, valentine bareng selebritis, tayangan eksklusif, sampai yang berbau erotis.
Pesta ini mencapai puncaknya pada malam hari. Jalan-jalan umum, hotel, pantai, sat-pusat perbelenjaan, bioskop-bioskop atau di kafe-kafe yang telah merambah kota-kota kecil di Yogyakarta, mulai kebanjiran order yang rata-rata pemesannya adalah pasangan muda-mudi. Siapa yang bisa jamin aktivitas itu nggak full maksiat? 

Valentine seperti telah menjelma menyerupai hari raya bagi anak muda. Saya sempat geli mengingat beberapa kisah semasa SMP, ngapai ikut-ikutan ribut ya? Bertukar coklat (yang harganya selangit di bulan itu) ditambah kartu ucapannya yang lagi-lagi berwarna pink, aneh. Kalau ribut beli baju baru buat lebaran sih wajar, ya kan? Lah ini sejarahnya aja nggak jelas dan masih menjadi polemik, masih juga ikut-ikutan latah.
Bagi sobat yang masih ngeyel dan kekeh ngikutin hajatan nggak nggenah ini, coba deh kita tengok apa yang terjadi di beberapa negara dalam rangka memperingati kematian yang dirayakan secara massal ini. 

14 Februari di India
Pada hari Sabtu, 14 Februari 2004, sejumlah aktivis pemuka Agama Hindu berkumpul di Bombay. Mereka menyerukan kepada saudara-saudara mereka agar tidak mengikuti tradisi valentine yang dikatakan memicu dekadensi moral dan merusak budaya India (Ridyasmara, 2005). Nggak tanggung-tanggung, para aktivis di negara yang industri hiburannya menjiplak habis gaya Hollywood ini, mengancam akan mencoreng muka siapa saja yang didapati ikut-ikutan merayakan valentine.
Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Februari 2005, para pemuka Agama Hindu kembali berkumpul di bagian tengah Madhya Prades dan daerah-daerah lainnya untuk mengecam hari valentine. Dravendra Rawat, anggota kelompok Hindu Bajrang Dal, menyatakan bahwa kelompoknya telah membentuk 16 tim yang masing-masing terdiri dari 25 aktivis. Tim ini akan menghentikan langsung aksi pemuda-pemudi yang masuk ke taman-taman yang sering mereka kunjungi.

Beberapa kelompok Hindu lain sebelumnya juga telah membakar kartu-kartu valentine dan merusak jendela-jendela toko untuk memprotes terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai “Hari Korupsi Budaya”.

Hari Valentine di Malaysia
Tak jauh berbeda dengan India, Malaysia yang didukung oleh pemuka Islam, juga mengecam hari kasih sayang ini. Seperti pernah ditulis oleh Kazi Mahmood dalam tulisannya yang berjudul “Valentine’s Day Under Fire In Malaysia”, ia menuliskan bahwa pemerintah Malaysia beserta para pemuka Islam menghimbau agar warganya tidak merayakan hari valentine, dan mengecam pihak peyelenggara konser Mariah Carey yang sengaja dilaksanakan untuk meramaikan hari tesebut.

Zulkifli Noordin dan beberapa ulama negeri Jiran ini pun menolak adanya perayaan valentine. Ia menyatakan bahwa merayakan valentine sama saja dengan merayakan kejatuhan kekhilafahan Islam di Spanyol yang retak pada tanggal 14 Februari 1492. Para pendeta sengaja melestarikan budaya tersebut sebagai hari kasih sayang, padahal hari itu adalah hari hilangnya kekuasaan Islam atas Spanyol (Ridyasmara, 2005).

Seperti di Indonesia, himbauan di India dan Malaysia hanya seperti suara angin. Pemuda-pemudinya tetap saja asyik menceburkan diri pada perayaan tersebut. Kasus Alfriani (29) yang menewaskan 9 orang pejalan kaki di Halte Tugu Tani gara-gara dibawah pengaruh narkoba setidaknya menjelaskan semuanya. Itupun belum sampai hari-H valentine. 

Free will di Christendom
 Christendom merupakan sebuah sebutan untuk tanah-tanah orang Kristen di Barat. Di Amerika, kartu Valentine pertama kali digagas oleh Esther A. Howland. Usahanya ini diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya sampai saat ini. Bahkan setiap tahunnya Howland selalu mendapat award sebagai pengusaha pencetak kartu terbaik.

Semenjak gagasan Howland menghentak dunia kartu ucapan, The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirim setiap tahunnya. Ini merupakan hari raya terbesar setelah natal dan tahun baru. Namun, di abad ke-20 kartu tradisi bertukaran kartu ucapan mengalami diversifikasi. Kini, kartu ucapan tidak lagi menguasai panggung. Tetapi hanya sebatas pengiring hadiah-hadiah besar, seperti coklat, bunga mawar hingga berlian. Hadiah ini tentu saja diberikan seorang pria kepada pasangannya.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya, kencan pada hari valentine sering ditafsirkan sebagai awal hubungan yang serius. Makanya, perayaan valentine di Negri Paman Sam ini lebih bersifat dating diakhiri dengan tidur bareng daripada mengungkapkan kasih sayang kepada orang tua, guru, dan sebagainya.
Perayaan valentine di negara-negara barat umumnya lebih dipersepsikan sebagai hari dimana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah sepanjang malam itu. Bahkan yang lebih ngeri lagi, di berbagai hotel memfasilitasi dengan mengadakan berbagai macam lomba dan acaranya berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan sperti striptease party. Halah-halah...

Banyak versi mengenai asal muasal Hari Valentine. Namun, kebanyakan literatur berbicara bahwa hari valentine tidak lain dan tidak bukan sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi Kuno dimana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katholik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sebenarnya Santo Valentine yang dianggap memiliki martir pada tanggal 14 Februari itu.
Nah, jelaskan. Mitos mengenai kematian St. Valentine saja masih menjadi perdebatan, bahkan minim pengakuan. Kalaupun sekarang hari valentine terkesan meriah dan hidup, tidak lain karena ulah pengusaha-pengusaha yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, televisi swasta, pengusaha hotel, bunga, coklat, boneka dan beberapa pengusaha lain yang mencari peruntungan dengan memanfaatkan event itu. Melalui kekuatan promosi dan marketing iklannya, mereka sengaja meniup-niupkan hari valentine sebagai hari khusus untuk berkasih sayang. Tujuannya cuma satu; dagangan mereka laku dan mendapat laba yang sangat besar. (Ridyasmara, 2005). Inilah yang disebut para sosiolog sebagai industrialisasi agama, dimana perayaan agama dibelokkan oleh para kapitalis menjadi perayaan bisnis.

Banyak juga remaja muslim yang nyari aman. Banyak diantara pelajar SMP-SMA yang mengetahui bahwa budaya Valentine bukan budaya Islam. Mereka tahu bahwa valentine berasal dari budaya yang menjijikkan. Tapi kok ya masih juga ikut-ikutan welcome. Mereka bilang, “ah, kan sekedar ngasih coklat kan nggak papa, sekedar ngucapin sayang sama orangtua,teman, atau pacar kan nggak papa, kan nggak sampai gitu-gituan, bla bla bla...”

Huah...hampir diujung bosan saya mendengar statemen temen-temen pelajar itu. Kalau itu alasannya, secara logika oke, bisa diterima. Pertama, sekedar ngasih coklat sih nggak apa-apa. Saya sih juga mau kalau sekedar dikasih coklat. Tapi kenapa harus di hari itu? 

Kedua, ngungkapin kasih sayang ke orangtua bisa dilakukan dihari-hari yang lainnya, nggak perlu nunggu setahun sekali. Cukup dengan kita bantu-bantu mereka,  belajar yang rajin. Lakukan apa yang menjadi do’a mereka di kertas penutup besek* dulu pas kita diaqiqahi “Semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua, berguna bagi nusa, bangsa dan Agama” (saya juga heran, kenapa setiap anak yang diaqiqahi pasti do’anya kaya gitu. Padahal bisa saja si orangtua mendo’akan “semoga menjadi mujahid/ah, semoga menjadi khalifah, semoga menjadi mujtahid/ah, semoga menjadi hafizh/ah, semoga menjadi pejuang syari’ah dan khilafah, semoga menjadi panglima perang terbaik, dll.” Kan lebih kerasa spesifikasinya; menjadi anak yang berguna bagi agama, tul nggak?).

Ketiga, nggak semua ngungkapin perasaan sayang itu halal dan dibolehkan. Ngungkapin perasaan sayang seorang suami ke istri atau sebaliknya, pahalanya wow! Seorang anak yang mengungkapkan kasih sayang ke orangtuanya, surga menanti didepan mata. Tapi kalau ngungkapin kasih sayang ke pacar, saya kok rada yakin kalau neraka di depan mata ya. Eh, bukan maksud mengkafir-kafirkan atau gimana gitu ya (mengkafir-karikan orang yang masih bersyahadat kan juga nggak dibolehin). 

Tapi asli deh, pacaran emang nggak dibenerin dalam Islam. Selain rugi di akhirat, dunianya juga rugi. Bayangin, kalau harus menanggung malu dari anak yang nggak diharapkan kelahirannya. Udah gitu di akhirat dapet siksa lagi. Masih bilang “kan saya pacarannya islami, nggak pegangan tangan,kalau ketemuan di masjid pakai kerudung juga, udah gitu kan nggak saling memandang, long distance, selalu diawasi orangtua?” Woy bro! Siapa yang bisa jamin setan itu baik hati dan tolerir sama orang alim?

Masih soal valentine. Perayaan ini memuat sejumlah pengakuan atas dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui Yesus sebagai anak tuhan. Merayakan Valday berarti ikut mengakui dan menerima kebenaran dogma tersebut yang dalam pandangan islam termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah, suatu perbuatan yang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah SWT.

Hadist Rasululluah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi ini cukup untuk mematahkan argumen-argumen nyeleneh itu.
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut”

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah juga pernah berkata
“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang secara khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberikan selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan ‘selamat hari raya!’ dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberikan selamat atasperbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. ia telah menyiapkan diri mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah”.

Sedangkan Allah dalam Qs. Al-Maidah ayat 51 melarang ummat islam untuk meniru atau meneladari orang Yahudi dan Nasrani.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagiaan mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaan yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim”.

So, ngapain ikiut-ikutan ngeributin valentine yang jelas H-A-R-A-M? Perayaan valentine emang sengaja dihembuskan oleh para agen kapitalis yang bermain di balik layar perusahaan untuk merusak pola pikir dan pola sikap kita sebagai remaja muslim. Disadari ataupun enggak, perang pemikiran tengah berlangsung. Jadi, tunggu apalagi? Tinggalkan budaya pagan sekarang juga, apapun itu.

*besek:tempat nasi terbuat dari rajutan bambu. Biasanya dipakai orang-orang jawa yang masih menggunakan tradisi genduren/genduri (semacam syukuran) untuk membawa makanan.

Rabu, 04 Januari 2012

Badai Otak

Bro! Saat itu mungkin pendulum pemikiran saya terlihat bergerak ke arah liberal. Sejak awal kita bertemu, udah bilang kalau saya bakal jarang berbicara mengenai teori konspirasi global yang membuat dunia islam terpuruk sedemikian rupa. Alasan kenapa saya buat tulisan yang kerasa aneh ini, karena saya sudah muak dengan stagnasi! Saya butuh pembaharuan. Saya butuh bersikap proporsionalitas dan kejujuran dalam berfikir.

Bro! Saya yakin akidah saya lebih tahan banting jika dibandingkan akidah saya masa lalu. Jika dimasa lalu saya merasa nggak kuat, saya yakin dapat dengan mudah dimentahkan, dan dimurtadkan (kalau saya bertemu orang-orang sinting yang saya kagumi). Kali ini nggak bro!. Saya sudah pernah melewati batas-batas keimanan. Saya sudah pernah mendekati kemurtadan dalam berfikir. Dari pengalaman yang mendebarkan itu, saya mendapatkan celah keimanan dalam fikiran saya. Saya menambalnya. Dan saat ini pondasi keimanan saya makin kuat, makin cerdas.

Bro! Benar apa yang orang lain katakan. Saya yakin, tulisan-tulisan saya pasti diselipi kesalahan berfikir. Tapi, saya berani menempuh kesalahan –yang tak sengaja saya lakukan- dalam pengembaraan pemikiran ini (kita sama-sama tahu bahwa keberhasilan nggak akan dicapai tanpa kesalahan). Saya berani karena hingga saat ini saya masih mencoba memerangi gelombang syak wasangka yang mengepung diri kita. Saya masih memperjuangkan proporsionalitas dan sikap fair dalam memandang semua hal (tanpa saya khawatir terpeleset dari pijakan pemikiran kieslaman saya).

Saya yakin semua ide diluar islam tidak benar, tapi suatu saat nanti jika kita bermusuhan, kita harus tetap bersikap fair (meski Amerika itu anjing, tapi anjing kan harus tetap diperlakukan adil kan bro?). saat ini saya sedang berusaha melempangkan jalan perubahan. Saya yakin ada sebagian teman yang juga merasakan ada stagnasi berfilir dan ketidak-fairan dalam bersikap (dalam memandang pemikiran lain diluar islam). Kejahatan ini sudah saya akhiri sejak lama dalam diri saya. Dan, biar saya dikecam, dikucilkan, itu nggak jadi soal dalam hidup saya. Di dalam hidup ini, pro kontra adalah sunatullah. Dan kali ini tekad saya sudah membatu. Saya siap membuka jalan perubahan bagi kawan-kawan yang masih ragu menunjukkan kerkemerdekaan berfikirnya. Dan saya ikhlas, menjadi martir bagi mereka.

Kita yang dulu bukan kita yang sekarang bro! Dan kita sekarang –sudah pasti- bukan kita dimasa yang akan datang. Kita akan terus berubah. Kearah yang lebih baik.

Bro! Berbicara mengenai teori konspirasi, kita masih sering mengedepankan ‘perasaan’ daripada logika berfikir. Dan itulah sikap umum rakyat yang memakai ‘perasaan’; dijadikan bahan studi kelayakan atau analisis SWOT. Beberapa kali konspirasi berhasil karena jeli membaca perasaan ini.

Lantas mengapa buletin-buletin ‘perasaan nasionalisme’ di Beirut dan Istambul membuat kita lupa akan konspirasi? Mungkin lebih baik kita menonton Angling Dharma atau Mak Lampir saja untuk memahami teori konspirasi. Jika Mak Lampir dan Grandong saja luar biasa hebat memahami teori konspirasi, begitu bodohkah Donald Rumsfeld dan CIA-nya?

Kita mentertawakan rakyat di suatu kadipaten yang menyambut anak buah Grandong dengan antusias, dan meng-idiot-idotkan mereka, tapi sekarang kita berlonjak-lonjak gembira menyambut kedatangah Obama. Padahal siapa yang bisa jamin Obama leboh baik hati dan tidak tegaan dibandingkan Grandong? Mengapa konspirasi seakan tidak mungkin di abad IT ini? Sementara di abad persilatan hal itu sagat mudah kita pahami.

Apakah kita menutup mata terhadap kebiasaan CIA yang baru membuka dokumen setelah 30 tahun? apakah kita akan mengulang sejarah, menunggu 30 tahun untuk sekedar mengatakan “ternyata selama ini kita dibodohi”, setelah terbukti emas di Irian Jaya digotong untuk membangun New York, sebagaimana kesepakatan Orde Baru dan AS pasca kemenangan mereka atas Soekarno? Apakah kita baru bisa cerdas setelah 30 tahun? mengapa kita sangat brilian mengupas konspirasi Grandong tapi kebrilianan itu hilang tak berbekas begitu membicarakan AS? Kenapa bro! Mengapa kita begitu jenius dalam skala kethoprak atau wayang tapi kejeniusan itu tiba-tiba lenyap manakala berada dalam dunia nyata, padahal permasalahannya masih saja sama?


*sedikit mengitip kata-kata Bang Divan dalam Badai Otaknya, dengan diselipi beberapa sumber.