Rabu, 25 Januari 2012

Valentine? Ngapain Diributin?



Ngomongin dunia remaja emang nggak pernah ada habisnya. Termasuk yang satu ini nih, pas memasuki bulan Februari. Anak baru gedhe yang katanya lagi sibuk mencari jati diri ini dibikin ribut sendiri. Mulai dari pusat kota sampai pelosok desa semua ikut-ikutan ribut. 

Pusat-pusat perbelanjaan bersiap-siap dengan pernak-pernik khasnya yang dodominasi warna pink, putih dan biru lembut. Para penjual balon berbentuk hati, bantal beludru, dan boneka beruang yang tengah membawa hati berwarna merah bertuliskan “be my valentine” nggak mau kalah saing. Pelajar di sudut desa juga telah siap dengan coklat dan kartu ucapannya.

Seperti nggak mau ketinggalan moment, stasiun teve pun mulai sibuk dengan berbagai ragam acara. Mulai dari konser, valentine bareng selebritis, tayangan eksklusif, sampai yang berbau erotis.
Pesta ini mencapai puncaknya pada malam hari. Jalan-jalan umum, hotel, pantai, sat-pusat perbelenjaan, bioskop-bioskop atau di kafe-kafe yang telah merambah kota-kota kecil di Yogyakarta, mulai kebanjiran order yang rata-rata pemesannya adalah pasangan muda-mudi. Siapa yang bisa jamin aktivitas itu nggak full maksiat? 

Valentine seperti telah menjelma menyerupai hari raya bagi anak muda. Saya sempat geli mengingat beberapa kisah semasa SMP, ngapai ikut-ikutan ribut ya? Bertukar coklat (yang harganya selangit di bulan itu) ditambah kartu ucapannya yang lagi-lagi berwarna pink, aneh. Kalau ribut beli baju baru buat lebaran sih wajar, ya kan? Lah ini sejarahnya aja nggak jelas dan masih menjadi polemik, masih juga ikut-ikutan latah.
Bagi sobat yang masih ngeyel dan kekeh ngikutin hajatan nggak nggenah ini, coba deh kita tengok apa yang terjadi di beberapa negara dalam rangka memperingati kematian yang dirayakan secara massal ini. 

14 Februari di India
Pada hari Sabtu, 14 Februari 2004, sejumlah aktivis pemuka Agama Hindu berkumpul di Bombay. Mereka menyerukan kepada saudara-saudara mereka agar tidak mengikuti tradisi valentine yang dikatakan memicu dekadensi moral dan merusak budaya India (Ridyasmara, 2005). Nggak tanggung-tanggung, para aktivis di negara yang industri hiburannya menjiplak habis gaya Hollywood ini, mengancam akan mencoreng muka siapa saja yang didapati ikut-ikutan merayakan valentine.
Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Februari 2005, para pemuka Agama Hindu kembali berkumpul di bagian tengah Madhya Prades dan daerah-daerah lainnya untuk mengecam hari valentine. Dravendra Rawat, anggota kelompok Hindu Bajrang Dal, menyatakan bahwa kelompoknya telah membentuk 16 tim yang masing-masing terdiri dari 25 aktivis. Tim ini akan menghentikan langsung aksi pemuda-pemudi yang masuk ke taman-taman yang sering mereka kunjungi.

Beberapa kelompok Hindu lain sebelumnya juga telah membakar kartu-kartu valentine dan merusak jendela-jendela toko untuk memprotes terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai “Hari Korupsi Budaya”.

Hari Valentine di Malaysia
Tak jauh berbeda dengan India, Malaysia yang didukung oleh pemuka Islam, juga mengecam hari kasih sayang ini. Seperti pernah ditulis oleh Kazi Mahmood dalam tulisannya yang berjudul “Valentine’s Day Under Fire In Malaysia”, ia menuliskan bahwa pemerintah Malaysia beserta para pemuka Islam menghimbau agar warganya tidak merayakan hari valentine, dan mengecam pihak peyelenggara konser Mariah Carey yang sengaja dilaksanakan untuk meramaikan hari tesebut.

Zulkifli Noordin dan beberapa ulama negeri Jiran ini pun menolak adanya perayaan valentine. Ia menyatakan bahwa merayakan valentine sama saja dengan merayakan kejatuhan kekhilafahan Islam di Spanyol yang retak pada tanggal 14 Februari 1492. Para pendeta sengaja melestarikan budaya tersebut sebagai hari kasih sayang, padahal hari itu adalah hari hilangnya kekuasaan Islam atas Spanyol (Ridyasmara, 2005).

Seperti di Indonesia, himbauan di India dan Malaysia hanya seperti suara angin. Pemuda-pemudinya tetap saja asyik menceburkan diri pada perayaan tersebut. Kasus Alfriani (29) yang menewaskan 9 orang pejalan kaki di Halte Tugu Tani gara-gara dibawah pengaruh narkoba setidaknya menjelaskan semuanya. Itupun belum sampai hari-H valentine. 

Free will di Christendom
 Christendom merupakan sebuah sebutan untuk tanah-tanah orang Kristen di Barat. Di Amerika, kartu Valentine pertama kali digagas oleh Esther A. Howland. Usahanya ini diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya sampai saat ini. Bahkan setiap tahunnya Howland selalu mendapat award sebagai pengusaha pencetak kartu terbaik.

Semenjak gagasan Howland menghentak dunia kartu ucapan, The Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirim setiap tahunnya. Ini merupakan hari raya terbesar setelah natal dan tahun baru. Namun, di abad ke-20 kartu tradisi bertukaran kartu ucapan mengalami diversifikasi. Kini, kartu ucapan tidak lagi menguasai panggung. Tetapi hanya sebatas pengiring hadiah-hadiah besar, seperti coklat, bunga mawar hingga berlian. Hadiah ini tentu saja diberikan seorang pria kepada pasangannya.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya, kencan pada hari valentine sering ditafsirkan sebagai awal hubungan yang serius. Makanya, perayaan valentine di Negri Paman Sam ini lebih bersifat dating diakhiri dengan tidur bareng daripada mengungkapkan kasih sayang kepada orang tua, guru, dan sebagainya.
Perayaan valentine di negara-negara barat umumnya lebih dipersepsikan sebagai hari dimana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah sepanjang malam itu. Bahkan yang lebih ngeri lagi, di berbagai hotel memfasilitasi dengan mengadakan berbagai macam lomba dan acaranya berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan sperti striptease party. Halah-halah...

Banyak versi mengenai asal muasal Hari Valentine. Namun, kebanyakan literatur berbicara bahwa hari valentine tidak lain dan tidak bukan sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi Kuno dimana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katholik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sebenarnya Santo Valentine yang dianggap memiliki martir pada tanggal 14 Februari itu.
Nah, jelaskan. Mitos mengenai kematian St. Valentine saja masih menjadi perdebatan, bahkan minim pengakuan. Kalaupun sekarang hari valentine terkesan meriah dan hidup, tidak lain karena ulah pengusaha-pengusaha yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, televisi swasta, pengusaha hotel, bunga, coklat, boneka dan beberapa pengusaha lain yang mencari peruntungan dengan memanfaatkan event itu. Melalui kekuatan promosi dan marketing iklannya, mereka sengaja meniup-niupkan hari valentine sebagai hari khusus untuk berkasih sayang. Tujuannya cuma satu; dagangan mereka laku dan mendapat laba yang sangat besar. (Ridyasmara, 2005). Inilah yang disebut para sosiolog sebagai industrialisasi agama, dimana perayaan agama dibelokkan oleh para kapitalis menjadi perayaan bisnis.

Banyak juga remaja muslim yang nyari aman. Banyak diantara pelajar SMP-SMA yang mengetahui bahwa budaya Valentine bukan budaya Islam. Mereka tahu bahwa valentine berasal dari budaya yang menjijikkan. Tapi kok ya masih juga ikut-ikutan welcome. Mereka bilang, “ah, kan sekedar ngasih coklat kan nggak papa, sekedar ngucapin sayang sama orangtua,teman, atau pacar kan nggak papa, kan nggak sampai gitu-gituan, bla bla bla...”

Huah...hampir diujung bosan saya mendengar statemen temen-temen pelajar itu. Kalau itu alasannya, secara logika oke, bisa diterima. Pertama, sekedar ngasih coklat sih nggak apa-apa. Saya sih juga mau kalau sekedar dikasih coklat. Tapi kenapa harus di hari itu? 

Kedua, ngungkapin kasih sayang ke orangtua bisa dilakukan dihari-hari yang lainnya, nggak perlu nunggu setahun sekali. Cukup dengan kita bantu-bantu mereka,  belajar yang rajin. Lakukan apa yang menjadi do’a mereka di kertas penutup besek* dulu pas kita diaqiqahi “Semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua, berguna bagi nusa, bangsa dan Agama” (saya juga heran, kenapa setiap anak yang diaqiqahi pasti do’anya kaya gitu. Padahal bisa saja si orangtua mendo’akan “semoga menjadi mujahid/ah, semoga menjadi khalifah, semoga menjadi mujtahid/ah, semoga menjadi hafizh/ah, semoga menjadi pejuang syari’ah dan khilafah, semoga menjadi panglima perang terbaik, dll.” Kan lebih kerasa spesifikasinya; menjadi anak yang berguna bagi agama, tul nggak?).

Ketiga, nggak semua ngungkapin perasaan sayang itu halal dan dibolehkan. Ngungkapin perasaan sayang seorang suami ke istri atau sebaliknya, pahalanya wow! Seorang anak yang mengungkapkan kasih sayang ke orangtuanya, surga menanti didepan mata. Tapi kalau ngungkapin kasih sayang ke pacar, saya kok rada yakin kalau neraka di depan mata ya. Eh, bukan maksud mengkafir-kafirkan atau gimana gitu ya (mengkafir-karikan orang yang masih bersyahadat kan juga nggak dibolehin). 

Tapi asli deh, pacaran emang nggak dibenerin dalam Islam. Selain rugi di akhirat, dunianya juga rugi. Bayangin, kalau harus menanggung malu dari anak yang nggak diharapkan kelahirannya. Udah gitu di akhirat dapet siksa lagi. Masih bilang “kan saya pacarannya islami, nggak pegangan tangan,kalau ketemuan di masjid pakai kerudung juga, udah gitu kan nggak saling memandang, long distance, selalu diawasi orangtua?” Woy bro! Siapa yang bisa jamin setan itu baik hati dan tolerir sama orang alim?

Masih soal valentine. Perayaan ini memuat sejumlah pengakuan atas dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui Yesus sebagai anak tuhan. Merayakan Valday berarti ikut mengakui dan menerima kebenaran dogma tersebut yang dalam pandangan islam termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah, suatu perbuatan yang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah SWT.

Hadist Rasululluah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi ini cukup untuk mematahkan argumen-argumen nyeleneh itu.
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut”

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah juga pernah berkata
“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang secara khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberikan selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan ‘selamat hari raya!’ dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberikan selamat atasperbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. ia telah menyiapkan diri mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah”.

Sedangkan Allah dalam Qs. Al-Maidah ayat 51 melarang ummat islam untuk meniru atau meneladari orang Yahudi dan Nasrani.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagiaan mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaan yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim”.

So, ngapain ikiut-ikutan ngeributin valentine yang jelas H-A-R-A-M? Perayaan valentine emang sengaja dihembuskan oleh para agen kapitalis yang bermain di balik layar perusahaan untuk merusak pola pikir dan pola sikap kita sebagai remaja muslim. Disadari ataupun enggak, perang pemikiran tengah berlangsung. Jadi, tunggu apalagi? Tinggalkan budaya pagan sekarang juga, apapun itu.

*besek:tempat nasi terbuat dari rajutan bambu. Biasanya dipakai orang-orang jawa yang masih menggunakan tradisi genduren/genduri (semacam syukuran) untuk membawa makanan.

Rabu, 04 Januari 2012

Badai Otak

Bro! Saat itu mungkin pendulum pemikiran saya terlihat bergerak ke arah liberal. Sejak awal kita bertemu, udah bilang kalau saya bakal jarang berbicara mengenai teori konspirasi global yang membuat dunia islam terpuruk sedemikian rupa. Alasan kenapa saya buat tulisan yang kerasa aneh ini, karena saya sudah muak dengan stagnasi! Saya butuh pembaharuan. Saya butuh bersikap proporsionalitas dan kejujuran dalam berfikir.

Bro! Saya yakin akidah saya lebih tahan banting jika dibandingkan akidah saya masa lalu. Jika dimasa lalu saya merasa nggak kuat, saya yakin dapat dengan mudah dimentahkan, dan dimurtadkan (kalau saya bertemu orang-orang sinting yang saya kagumi). Kali ini nggak bro!. Saya sudah pernah melewati batas-batas keimanan. Saya sudah pernah mendekati kemurtadan dalam berfikir. Dari pengalaman yang mendebarkan itu, saya mendapatkan celah keimanan dalam fikiran saya. Saya menambalnya. Dan saat ini pondasi keimanan saya makin kuat, makin cerdas.

Bro! Benar apa yang orang lain katakan. Saya yakin, tulisan-tulisan saya pasti diselipi kesalahan berfikir. Tapi, saya berani menempuh kesalahan –yang tak sengaja saya lakukan- dalam pengembaraan pemikiran ini (kita sama-sama tahu bahwa keberhasilan nggak akan dicapai tanpa kesalahan). Saya berani karena hingga saat ini saya masih mencoba memerangi gelombang syak wasangka yang mengepung diri kita. Saya masih memperjuangkan proporsionalitas dan sikap fair dalam memandang semua hal (tanpa saya khawatir terpeleset dari pijakan pemikiran kieslaman saya).

Saya yakin semua ide diluar islam tidak benar, tapi suatu saat nanti jika kita bermusuhan, kita harus tetap bersikap fair (meski Amerika itu anjing, tapi anjing kan harus tetap diperlakukan adil kan bro?). saat ini saya sedang berusaha melempangkan jalan perubahan. Saya yakin ada sebagian teman yang juga merasakan ada stagnasi berfilir dan ketidak-fairan dalam bersikap (dalam memandang pemikiran lain diluar islam). Kejahatan ini sudah saya akhiri sejak lama dalam diri saya. Dan, biar saya dikecam, dikucilkan, itu nggak jadi soal dalam hidup saya. Di dalam hidup ini, pro kontra adalah sunatullah. Dan kali ini tekad saya sudah membatu. Saya siap membuka jalan perubahan bagi kawan-kawan yang masih ragu menunjukkan kerkemerdekaan berfikirnya. Dan saya ikhlas, menjadi martir bagi mereka.

Kita yang dulu bukan kita yang sekarang bro! Dan kita sekarang –sudah pasti- bukan kita dimasa yang akan datang. Kita akan terus berubah. Kearah yang lebih baik.

Bro! Berbicara mengenai teori konspirasi, kita masih sering mengedepankan ‘perasaan’ daripada logika berfikir. Dan itulah sikap umum rakyat yang memakai ‘perasaan’; dijadikan bahan studi kelayakan atau analisis SWOT. Beberapa kali konspirasi berhasil karena jeli membaca perasaan ini.

Lantas mengapa buletin-buletin ‘perasaan nasionalisme’ di Beirut dan Istambul membuat kita lupa akan konspirasi? Mungkin lebih baik kita menonton Angling Dharma atau Mak Lampir saja untuk memahami teori konspirasi. Jika Mak Lampir dan Grandong saja luar biasa hebat memahami teori konspirasi, begitu bodohkah Donald Rumsfeld dan CIA-nya?

Kita mentertawakan rakyat di suatu kadipaten yang menyambut anak buah Grandong dengan antusias, dan meng-idiot-idotkan mereka, tapi sekarang kita berlonjak-lonjak gembira menyambut kedatangah Obama. Padahal siapa yang bisa jamin Obama leboh baik hati dan tidak tegaan dibandingkan Grandong? Mengapa konspirasi seakan tidak mungkin di abad IT ini? Sementara di abad persilatan hal itu sagat mudah kita pahami.

Apakah kita menutup mata terhadap kebiasaan CIA yang baru membuka dokumen setelah 30 tahun? apakah kita akan mengulang sejarah, menunggu 30 tahun untuk sekedar mengatakan “ternyata selama ini kita dibodohi”, setelah terbukti emas di Irian Jaya digotong untuk membangun New York, sebagaimana kesepakatan Orde Baru dan AS pasca kemenangan mereka atas Soekarno? Apakah kita baru bisa cerdas setelah 30 tahun? mengapa kita sangat brilian mengupas konspirasi Grandong tapi kebrilianan itu hilang tak berbekas begitu membicarakan AS? Kenapa bro! Mengapa kita begitu jenius dalam skala kethoprak atau wayang tapi kejeniusan itu tiba-tiba lenyap manakala berada dalam dunia nyata, padahal permasalahannya masih saja sama?


*sedikit mengitip kata-kata Bang Divan dalam Badai Otaknya, dengan diselipi beberapa sumber.

Senin, 05 Desember 2011

Demi Waktu


 Ini adalah agenda mentoring mingguan saya setiap hari senin di SMA 2 Bantul, selain agenda ‘pesanan’ dari Rohis Al-Falaq sebagai alumni yang mewarisi anak-anak. Hmmm, mungkin agak sedikit curhat dan saya kasih bumbu-bumbu yang terlalu berlebih. Tapi nggak apa-apa. Berbagi ilmu tak ada salahnya menceritakan kelalaian diri sendiri.

Well, awalnya saya agak kaku dengan materi request anak-anak (yang kebetulan cuma dua orang). Saya merasa belum layak untuk memberikan materi ini lantaran eror saya yang kadang nggak ketulungan (banyak tidur, chatting, searching sesuatu yang tidak mendukung aktivitas saya sebagai mahasiswa sekaligus pengemban dakwah, dll) apalagi soal pedang yang satu ini. Tetapi dakwah tidak boleh macet karena alasan ketidaklayakan, seberapa besar usaha kita untuk melayakkan diri itulah yang harusnya kita evaluasi bersama. Materi yang harus saya kupas adalah Demi Waktu. Gubrak, itu bukan lagunya salah satu Boy Band yang vokalisnya kemarin habis kena fitnah pol-polan itu. Bukan pula sumpah serapah seseorang kepada kekasihnya. 

Saya merasa kaku karena saya sendiri masih eror soal waktu. Benar kata Fatimah (salah satu anak yang saya bimbing), “Kita sering lupa, habis dengar dari mbak mungkin ingat. Tapi tidak untuk seterusnya”. Barangkali itulah penyakit yang menjangkiti saya selama ini. 

Dengan status sebagai pengemban dakwah, yang dijamin oleh Allah pahalanya terus mengalir dari orang yang menerima dakwah kita tanpa mengurangi pahalanya, Insya Allah. Status sebagai binaan sebuah harakah internasional, yang dulu buanget (ada kira-kira 5 tahun yang lalu) saya pernah ngaji materi ini. Kembali lagi saya katakan, saya merasa kaku, tertohok, terpojok. Tapi subhanallah, dengan menemani anak-anak ini belajar, saya merasa diingatkan kembali oleh Allah SWT.

Berbicara masalah waktu, seringkali saya merasa ketakutan. Takut karena kehidupan ini akan segera berakhir, takut karena setiap lompatan detik itu saya sering lalai dalam mendakwahkan agama Allah. Merasa bermalas-malasan, masih memaklumi diri sendiri dll. Mendengar irama jam yang selalu berputar, tidak berhenti pun saat jarum itu kelelahan (kecuali jika jam itu rusak atau baterainya habis), membuat saya mengingat berapa lama lagi saya (kita) akan menyinggahi bumi ini.

Dalam pembahasan tersebut, kebetulan saya dapat referensi dari beberapa tulisan, waktu ibaratkan argo taksi yang terus berjalan. Kita akan menyadari bahwa seminggu cepat berlalu setelah melalui waktu itu. Yup, waktu itu ngebut, berlalu dengan sangat cepat. Di usia yang ke-19 tahun ini, saya baru menyadari bahwa 19 tahun itu tidak lama. Rasanya baru kemarin berlatih naik sepeda waktu SD, belajar naik motor waktu SMP, pertama kalinya ngaji kenal islam waktu kelas 3 SMP, menyanyikan lagu “...aku masih anak sekolah, satu SMA...” pas H+1 MOS. Baru kemarin diwisuda SMA, dan kemarinnya lagi pertama kalinya mengenakan baju putih abu-abu, dan saat saya menuliskan tulisan ini saya sudah duduk di bangku kuliah semester 3 di sebuah Universitas Negri di Yogyakarta. Semua itu berjalan sangat cepat.

 Jika kita lihat manusia-manusia yang telah meninggalkan bumi ini, katakanlah rata-rata usia manusia itu adalah 60-70 tahun dan sudah meninggal 14 abad yang lalu (manusia yang hidup dizamannya Rasulullah), maka betapa singkatnya hidup di dunia ini dibandingkan waktu yang harus dihabiskan di alam kubur sampai hari kiamat. Artinya masa kehidupan di alam kubur lebih lama daripada di dunia. Lalu bagaimana jika kita membandingkan kehidupan dunia ini dengan alam akhirat yang kekal abadi dan tidak ada ujungnya?

Jika garis lurus yang kita lihat di atas kita ibaratkan sebagai jatah usia kehidupan kita di bumi ini, titik A adalah titik start kita dimana kita dilahirkan. Sementara titik D adalah titik finish dimana jatah kita di dunia ini habis. Taruhlah misalkan saat ini kita berada pada titik B, maka jarak dengan kematian masih agak jauh.

Namun bagaimana jika saat ini kita berada pada titik C? Jika titik D kita hanya sampai pada usia 20 tahun (usia saya saat ini 19 lebih 5 bulan), kematian bukanlah hal yang jauh lagi. Maka waktu untuk singgah di bumi ini tinggal 7 bulan lagi. Permasalahannya adalah, kita tidak dibekali ilmu oleh Allah untuk mengetahui di mana posisi kita saat ini. Itu telah menjadi rahasia Allah yang hanya Allah saja yang tahu. Lalu bagaimana jika kita benar-benar berada di titik C, bahkan mendekati D? Rentang waktu antara A sampai C telah kita manfaatkan untuk apa? Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al-‘Ashr ayat 1-2 yang berbunyi;

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan yang beramal shalih serta saling nasihat menasihati dalam kebenaran.”

Menurut ulama Ar-Razi, jika rugi dipahami sebagai hilangnya modal, maka modal manusia adalah waktu (umur). Maka setiap manusia hakikatnya selalu merugi. Setiap hari kita punya jatah modal sekitar 86.400 detik, setiap detik usia manusia terus berkurang. Lalu, setiap detik selama 86.400 detik itu sudah kita manfaatkan untuk apa?

Bisa jadi kita mengisinya dengan suatu aktivitas yang minim manfaat; nge-gym, baca komik, jalan, shoping, nonton teve, pacaran, chatting, tidur, dll. Maka kesia-siaan telah kita lakukan. Pada saat itu kita akan kehilangan banyak waktu. Berapa detik yang kita habiskan untuk nge-gym? berapa menit yang kita habiskan untuk baca komik? berapa jam yang kita habiskan untuk shoping? berapa tahun yang kita habiskan untuk tidur? Lalu berapa detik yang kita lakukan untuk bermuhasabah untuk menjadi lebih baik lagi di esok hari? Berapa menit kita habiskan untuk membaca kalamullah? Berapa jam kita gunakan untuk mendakwahkan islam? Padahal hitungan amal bukan dalam satuan abad, windu, tahunan, bulanan, mingguan, harian, menit, tapi DETIK.

Waktu-waktu yang tertunda seringkali menyebabkan kerjaan kita keteteran. Seorang penumpang pesawat pasti tidak akan ketinggalan pesawat jika dia bangun 5 menit lebih pagi, seorang pelari pasti akan menjadi pemenang jika ia berlari 5 detik lebih cepat lagi, seorang mahasiswa nggak akan mengulang mata kuliah yang sama (sehingga harus menunda kelulusan) jika tahun ini dia rajin. Waktu nggak ngasih kesempatan buat kita melakukan hal yang kita tinggalkan tersebut. Paling banter kita masih bisa memperbaiki kesalahan, tetapi itu tidak akan mengulang waktu dan kejadian yang sama.

Sobat, waktu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia kita. Itu sebabnya, kita nggak bisa minta ijin, misalnya mau cuti dulu dari bertambahnya usia ketika kita lagi tidur atau ngobrol dan main gim. Usia kita dari detik ke detik terus bertambah. Meskipun kita lagi nggak beraktivitas. Itu sebabnya, jangan mentang-mentang masih muda terus kita merasa masih banyak waktu untuk nanti. Sehingga merasa waktu tersebut harus kita habiskan untuk aktivitas yang kita sukai dan senangi saat ini namun dalam pandangan Islam miskin manfaat. Itu artinya kita menghamburkan kesempatan yang diberikan hanya untuk hal-hal yang remeh-temeh. Sebab, seharusnya yang kita upayakan dalam setiap detik itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah Swt.



Karena itu, wajarlah jika dalam ayat selanjutnya (di QS. Al-‘Ashr di atas) dikatakan bahwa orang yang tidak merugi alias beruntung hanyalah orang yang menghabiskan umur (waktu)-nya untuk mengerjakan amal shalih. Sebab hanya dengan mengerjakan amal shalih manusia akan mendapat ganti dari modalnya yang telah hilang.

Keuntungan yang lebih besar lagi dapat diraih oleh seseorang yang melakukan dakwah, saling berwasiat untuk menaati kebenaran dan menepati kesabaran. Dalam hadist riwayat Abu Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, dari Abu Hurairah disebutkan bahwa salah satu dari tiga amal yang tidak terputus pahalanya disebabkan kematian adalah ilmu yang bermanfaat yang diajarkan semasa masih hidup.

Esensinya waktu itu ibarat pisau bermata dua. Satu sisi bisa membunuh kita, disisi lain kita bisa memanfaatkannya untuk suatu hal yang positif. Kita punya andil untuk mengasah pisau itu agar jangan sampai membunuh kita. Perputaran waktu selalu mengajak kita agar jangan sampai kita menjadi orang yang merugi; di akhirat kelak hanya bisa berandai-andai jika kita bisa mengulang kehidupan ini sekali lagi. Jangan sia-siakan waktu dengan aktivitas yang miskin manfaat. 

Mungkin memang kita butuh membuat list berapa detik yang sudah kita gunakan untuk tidur hari ini, untuk kuliah, praktikum, mengerjakan tugas, berdakwah, nonton Teve, nge-gym, chatting, ngelamun dll.  Apa yang tertulis itulah waktu yang kita punya. Dan dari sinilah kita tahu berapa banyak aktivitas yang kita hambur-hamburkan serta aktivitas yang berorientasi pahala. Setelah itu kita butuh mengevaluasi / memuhasabahi diri sendiri agar esok bisa lebih baik lagi. Jangan sampai hari esok sama saja bahkan lebih buruk.

Wallahua’lam

*Sambil mengajari diri sendiri supaya segera bangkit dari keeroran-keeroran dan merefresh agar memenej waktu lebih baik lagi.

Sudah Berapa Menit Usiamu?


Sobat muda, siapa yang paling kaya di dunia saat ini? Siapa yang paling guanteng atau cuantik saat ini? Siapa yang paling berotak encer? Paling cepat, paling kuat dan juga paling-paling yang lain? Nah, sekarang, siapa yang memiliki waktu paling banyak dalam sehari semalam di dunia? Jawabnya pasti nggak ada, sebab Allah Swt. memberikan waktu yang sama kepada kita semua.

Harta, ketampanan, kecantikan, kecepatan, kelincahan, kecerdasan setiap orang pasti beda, tapi waktu yang diberikan Allah Swt. kepada kita pastilah sama. Jadi Allah Swt. memberikan modal waktu yang sama kepada kita semua. Maka barang siapa yang hari ini memanfaatkan waktunya lebih jelek dari hari kemarin celakalah dia (kalau diibaratkan dengan usaha artinya bangkrut alias gulung tikar), dan barang siapa yang hari ini memanfaatkan waktunya sama dengan hari kemarin rugilah dia (hasil usahanya tidak mampu menutup biaya operasional). Jadi pilihanya hanya satu kalau kita ingin menuai keuantungan, hari ini harus lebih baik dibandingkan hari kemarin dalam memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan kepada kita.

Bagaimana agar kita mampu menuai keuntungan? Sibukkan kegiatan kita sehari-hari dengan yang wajib dan sunah, hindari kegiatan yang mubah dan makruh, serta campakkan sejauh-jauhnya perbuatan yang haram. Biar tambah greng lagi lakukan kegiatan yang diberikan keuntungan berlipat oleh Allah Swt., misalnya infak di jalan Allah (700 kali lipat), Sholat Tahajud (diangkat derajatnya), Sholat berjamaah (diganjar 27 kali lipat),?  beribadah di Masjid Nabawi (1000 kali dibandingkan dengan di masjid lain), beribadah di Masjidil Haram (100.000 kali), Masjidil Aqsa (500 kali), dakwah (pahalanya terus mengalir dari orang yang menerima dakwah kita), silaturahmi (memperpanjang umur dan dimurahkan rizki) dan masih banyak akitivatas lain.

Untuk itu mengelola (management) waktu itu sangat penting bagi kita. Namun adakalanya kita sangat abai dalam mengelola waktu, ukuran yang kita gunakanpun tahunan. Misalnya umurmu sudah berapa tahun? Jarang yang bertanya umurmu sudah berapa bulan (kecuali bagi bayi), atau umurmu sudah berapa hari? Apalagi jarang kita temukan ada yang bertanya usiamu sudah berapa menit? Padahal setiap detik dan menit kita sangatlah berarti. Kalau ingin bertanya pentingnya menit cobalah bertanya kepada penumpang pesawat yang tertinggal beberapa menit.?  Dan kalau ingin tahu berharganya detik tanyalah kepada juara kedua pelari atau perenang? Pasti dia menjawab andai saja saya beberapa detik lebih cepat dari dia pastilah saya juaranya. Itu sebabnya, untuk menjadi juara atau kalah, kita hanya butuh satu detik.

Sobat muda, usia saya?  kini sudah lebih dari 18.921.600 menit. Nah sekarang hitung, sudah berapa menit usiamu? Berapa menit yang sudah engkau hambur-hamburkan? Dan berapa menit yang sudah engkau biarkan pergi percuma tanpa makna? [Jamil az-Zaini]

Dikutip abis2an dari
http://wiwikhaylila.wordpress.com/2011/02/04/sudah-berapa-menit-usiamu/

Minggu, 27 November 2011

Perempuan Sejahtera dalam Naungan Khilafah Islamiyah


Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (TQS An Nahl:112)
Rasulullah saw, bersabda “Hampir-hampir kemiskinan itu menjadikan seseorang kufur”
 (HR. Abu Nu’aim).
Kesengsaraan Perempuan akibat Sistem Kapitalisme
Ayat dan hadits di atas tepat sekali menggambarkan kesengsaraan dunia saat ini karena manusia meninggalkan hukum-hukum Allah dan menerapkan kapitalisme. Masyarakat dunia saat ini menghadapi kesengsaraan yang luar biasa. Setiap hari 26.500 – 30.000 anak-anak meninggal akibat kemiskinan (Globalissues.com, Poverty Fatcs and Stats), 950 juta penduduk dunia dililit kemiskinanan dan kelaparan ekstrim bukan karena tidak tersedianya bahan pangan namun karena ketidakmampuan menjangkau harga pangan yang melangit. Saat ini masih terdapat 22,77 juta perempuan Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih dari 2,5 juta perempuan menjadi buruh migran meninggalkan anak dan keluarganya akibat kemiskinan, dan banyak kasus-kasus perkosaan dan kekerasan tidak manusiawi menimpa.
Disisi lain, masyarakat dipaksa untuk menerima kehidupan serba minimalis yang jauh dari standar kesejahteraan.  Menurut Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat ini ada 2.300.000 keluarga yang masih tinggal di rumah kumuh dan tidak layak huni. Layanan kesehatan yang didapatkan masyarakat umum sangatlah minimalis,  Kualitas obat generik, layanan Rumah Sakit kelas tiga, dan sejenisnya.  Karena hanya inilah yang sanggup mereka bayar.  Bahkan – ironis memang – bagi mereka yang tidak mempunyai uang tidak bisa berobat, mereka menyerah pasrah pada nasib. 
Dalam pendidikan, orang miskin di larang sekolah, kalaupun bersekolah orang miskin ‘dilarang’ untuk mengecap pendidikan menengah dan perguruan tinggi, mereka hanya cukup mengakses pendidikan dasar yang sembilan tahun. Itupun  tidak semua warganegara dapat merasakannya. Realitas buruknya kondisi masyarakat termasuk perempuan, merupakan hal yang wajar jika dikaitkan dengan situasi global yang tengah didominasi sistem kapitalisme.  Sistem yang tegak diatas asas sekularisme-liberalisme ini berwatak imperialistik dan eksploitatif. Dan ini tercermin dalam berbagai aturan hidup bebas yang dilahirkannya. Di bidang politik, kapitalisme menciptakan situasi dimana yang kuat  akan menindas yang lemah. Paradigma hubungan rakyat-penguasa yang dibangun olehnya tak lebih sebagai hubungan penjual dengan pembeli, dan negara diminimalisir perannya dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Begitupun di bidang sosial dan budaya, kapitalisme telah menjadikan kemanfaatan dan kebebasan sebagai “agama yang dipuja”.
Di bidang ekonomi, terwujud berbagai paket kebijakan neoliberal yang memunculkan ketidakadilan di berbagai level. Berbagai data perkembangan dunia sepuluh tahun terakhir memang menunjukkan bahwa penerapan sistem kapitalisme-neoliberal oleh negara-negara adidaya atas ‘bantuan’ lembaga-lembaga internasional telah berhasil mengglobalkan kemiskinan daripada kemakmuran. Begitupun, jebakan krisis ekonomi yang ‘dikelola’ AS dan resep debt swap/jebakan utang  yang mematikan ala IMF juga telah memaksa negara-negara lemah korban krisis itu menanggung beban utang ribawi yang luar biasa besar. Sementara di saat yang sama, sumber-sumber alam dan berbagai asset strategis yang mereka miliki harus rela dikuasai kapitalis asing dengan melakukan program-program anti rakyat semacam privatisasi, pencabutan subsidi, deregulasi dan liberalisasi. Ironisnya, pendonor lembaga rentenir IMF juga adalah negara-negara kapitalis yang menggagas dan menjadi motor program-program PBB semacam MDGs dan pengarusutamaan ide KKG.
Jika demikian halnya, memberantas kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan laki-laki dan perempuan dengan berbagai deklarasi, termasuk melalui program-program KKG dan MDGs, memang cuma mimpi.


Islam Menjamin Kesejahteraan Individu dan Masyarakat
Jika sistem kapitalisme sekuler terbukti gagal mensejahterakan perempuan, sekarang saatnya menguji kemampuan sistem Islam sebagai sistem pengganti kapitalisme. Sistem Islam yang diimplementasikan secara riil oleh institusi negara yaitu Khilafah Islamiyah.
Kesejahteraan diartikan sebagai terpenuhinya seluruh potensi yang dimiliki manusia secara optimal, baik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok (al-hajat al- asasiyah) seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan termasuk agama sebagai tuntunan hidup, serta pemenuhan kebutuhan pelengkap (al-hajat-al-kamaliyat) baik berupa kebutuhan sekunder maupun tersier
Terkait kebutuhan pokok berupa barang (pangan, sandang dan papan)Islam mewujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
1.    Mewajibkan Laki-laki memberi nafkah kepada diri dan  keluarganya
Setiap laki-laki yang mampu bekerja, Islam mewajibkan untuk berusaha sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Adapun terhadap perempuan, Islam tidak mewajibkan mereka untuk bekerja, tetapi Islam mewajibkan pemberian nafkah kepada mereka.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ  مِثْلُ ذَلِكَ
…Dan kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada pada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupanya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya. Dan warispun berkewajiban demikian… (TQS. al-Baqarah [2]: 233).

2.    Mewajibkan Kerabat dekat membantu saudaranya

مِثْلُ ذَلِكَ وَعَلَى الْوَارِثِ
Dan ahli  warispun berkewajiban demikian… (TQS. al-Baqarah [2]: 233).

3.    Mewajibkan Negara untuk Mengurus Rakyat Miskin

Saat pemenuhan kebutuhan pokok berupa barang ini ternyata tidak bisa dipenuhi oleh suami atau ayah mereka atau ahli waris atau kerabat dekat mereka, Islam telah menetapkan kewajiban atas Negara.  Negara memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan harta yang ada di baitul mal baik dari pos zakat, atau –jika pos zakat kosong- diambil dari pos pemasukan lainnya.  Dalam pandangan Islam, Negara bertindak sebagai pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya dan bertanggungjawab mewujudkan kemashlahatan bagi mereka melalui penerapan hukum Islam secara kaffah. Rasulullah SAW bersabda
الإمام راع و هو مسؤل عن رعيته
 “Seorang imam seperti penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya” (al-hadits).
Jika baitul mal banar-benar kosong, maka negara akan mewajibkan pemenuhannya kepada seluruh kaum Muslim yang mampu.
Firman Allah:
َوفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Di dalam harta mereka, terdapat hak bagi orang miskin yang meminta-minta yang tidak mendapatkan bahagian.(TQS. adz-Dzariyat [51]: 19).

4.        Mewajibkan Kaum muslimin Membantu Rakyat Miskin

Rasulullah saw. juga bersabda:
Siapa saja yang menjadi penduduk suatu daerah, di mana di antara mereka terdapat seseorang yang kelaparan, maka perlindungan Allah Tabaraka Wata’ala terlepas dari mereka. (HR. Imam Ahmad)
Tidaklah beriman kepada-Ku, siapa saja yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya kelaparan, sementara dia mengetahuinya. (HR. al-Bazzar)

Sedangkan terkait kebutuhan pokok berupa jasa dan bersifat kolektif (pendidikan, kesehatan dan keamanan), Islam telah menetapkan mekanisme langsung yaitu pemenuhan langsung oleh Negara. Nabi SAW bersabda: Imam itu adalah pemimpin dan dia bertanggungjawab terhadap rakyatnya.

Syari’ah Islam telah memerintahkan Negara untuk menjamin kebutuhan kolektif warga Negara tanpa membedakan kaya atau miskin. Warga negara dipelihara oleh negara hingga menjadi masyarakat yang cerdas, sehat, kuat dan aman.
Kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang merupakan kebutuhan asasi yang mutlak diperlukan oleh manusia dalam hidupnya. Pengadaan dan jaminan terhadap kedua kebutuhan mendasar ini akan ditanggung sepenuhnya oleh Negara. Baitul maal yang akan menanggung pembiayaannya.(3)Negara akan memberikan berbagai fasilitas pendidikan yang berkualitas secara gratis mulai dari jenjang pendidikan dasar-perguruan tinggi kepada seluruh warganya. Begitu juga dengan kesehatan, negara menjamin setiap warganegaranya apakah laki-laki maupun perempuan,apakah orang kaya atau miskin,bahkan muslim maupun non muslim berhak mendapatkan pelayanan kesehatan rumah sakit yang bermutu (mulai dari obat-obatan, dokter, tindakan medis, dll).
Terkait dengan jaminan keamanan, penerapan aturan yang tegas dalam bentuk sanksi di berikan kepada siapa saja yang mengganggu keamanan jiwa, darah, harta bahkan kehormatan orang lain, baik pelakunya berasal dari kalangan pejabat negara, keluarga penguasa maupun rakyat biasa (perempuan-laki-laki, kaya-miskin, muslim-nonmuslim). Sanksi-sanksi tersebut dalam Islam (‘uqubat) berfungsi sebagai zawaajir (pencegahan) dan jawaabir (penebus).

Sejahtera dalam Naungan Khilafah Islamiyah
Khilafah Islamiyah telah terbukti mampu melahirkan peradaban yang menjadi rahmatan lil’alamin dan mendapatkan pengakuan dunia secara mutlak.  Khilafah Islamiyah telah terbukti mampu menghantarkan kesejahteraan bagi seluruh warganya, muslim maupun non muslim, perempuan maupun laki-laki, anak-anak maupun orangtua, si miskin maupun si kaya.  Beberapa fakta akan dipaparkan bagaimana Khilafah Islamiyah secara de facto dan de jure telah berhasil menaungi manusia dengan kesejahteraan termasuk perempuan:
Pemenuhan Kebutuhan Pokok Individu
Hindun pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata: ” Ya Rasulullah, sungguh Abu Sufyan seorang pria yang sangat pelit.  Ia tidak memberi nafkah yang cukup bagi diriku dan anakku”.  Maka Rasulullah SAW bersabda : “Ambil saja  olehmu apa yang mencukupi untuk dirimu dan anakmu secara ma’ruf”. Muttafaq ’alaihi dari jalur Aisyah.
Fakta membuktikan, Khilafah Islamiyah telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Ini tercermin dari apa yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khathab Ra. Beliau ra telah membangun “daar al-daaqiq” (rumah tepung). Tujuannya adalah untuk menolong dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang singgah dalam perjalanan. 7 Khalifah Umar bin Khathab juga menikahkan kaum Muslimin yang tidak mampu membayar utang-utang mereka dan memberikan biaya kepada para petani agar mereka menanami tanahnya. Demikian pula pada masa Daulah Umayyah dibawah pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis.  Pada saat itu rakyat sudah sampai pada taraf hidup dimana mereka tidak memerlukan bantuan harta lagi.
Pemenuhan Kebutuhan Pokok Masyarakat
  1. Pendidikan
Mengenai pengajaran Rasulullah Saw terhadap kaum wanita, Imam Bukhari dalam kitab shahihnya meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri sebagai berikut: Seorang wanita datang kepada Rasulullah Saw, kemudian berkata:”Wahai Rasulullah, telah memperoleh haditsmu, maka berilah kami (kaum wanita) satu hari dimana kami datang hendak belajar apa-apa yang telah diberikan Allah kepadamu”.Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “ Berkumpullah kalian pada hari anu,…,dan anu… ditempat anu…” Maka berkumpullah wanita-wanita tersebut dan Rasulullah SAW datang untuk mengajar mereka apa-apa yang telah diajarkan Allah kepadanya.
Selain itu banyak fakta lain, misalnya terdapatnya madrasah Al-Muntashirah yang didirikan oleh khalifah al-Muntashir di kota Baghdad.  Pada sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4.25 gram emas).  Kehidupan keseharian mereka di jamin sepenuhnya oleh Negara.  Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit dan pemandian. Dan jauh sebelumnya Ad-Damasyiqi mengisahkan dari Al Wadliyah bin Atha’ bahwa khalifah Umar bin Khathab Ra memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar emas setiap bulan (1 dinar= 4,25gremas). Bahkan, para Khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar kepada para penulis buku yaitu memberikan mereka imbalan emas seberat buku yang di tulisnya.
  1. Kesehatan

Rasulullah SAW pernah membangun tempat pengobatan untuk orang-orang sakit dan membiayainya dari Baitul Maal.  Pernah serombongan orang berjumlah delapan orang dari Urairah datang mengunjungi Rasulullah Saw di madinah.  Mereka menyatakan keimanan dan keislamannya kepada Rasulullah SAW karena Allah.  Disana mereka terserang penyakit limpa.  Rasulullah SAW memerintahkan mereka beristirahat di pos penggembalaan ternak kaum muslimin di Baitul maal, disebelah Quba yang bernama Zhi Jadr. Mereka tinggal di sana hingga sembuh dan gemuk.  Mereka juga diijnkan minum susu dari binatang-binatang ternak.
Dalam buku Tarikhul Islam al-Siyasi, diceritakan Khalifah Umar Ra telah memberikan sesuatu dari Baitul Maal untuk membantu kaum yang terserang penyakit lepra di jalan menuju Syams, ketika ia melewati daerah tersebut. 
            Pada masa Bani Thulun di mesir memiliki masjid yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk mencuci tangan, lemari tempat penyimpanan obat-obatan dan minuman, serta dilengkapi dengan ahli pengobatan (dokter) untuk mengobati secara gratis kepada orang-orang yang sakit.

  1. Keamanan
Negara Khilafah Islamiyah memberikan keamanan kepada setiap warganya termasuk perempuan dari gangguan yang merusak kehormatannya. Sebagai contoh, pada masa kepemimpinan Al-Mu’tashim pernah terjadi pelecehan seorang Muslimah oleh pejabat Romawi di kota Amuria, menindaklanjuti pelecahan ini sang khalifah telah menurunkan ribuan pasukan hingga akhirnya  kota Amuria ditaklukkan hanya gara-gara membela seorang perempuan.
Demikianlah gambaran jaminan kesejahteraan yang diberikan Islam kepada warga negaranya termasuk kepada perempuan. Dengan jaminan seperti itu nampak jelas  bagaimana Islam telah mendudukkan laki-laki dan perempuan tanpa ada diskriminasi. Laki-laki diberi kewajiban oleh Allah SWT untuk bekerja guna memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Sementara perempuan diberi kewajiban untuk menjalankan peran utamanya dalam rumah tangga, yaitu sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Tentu saja ‘pembagian’ kewajiban ini demi kelestarian eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu wajar jika perempuan dibebani tanggung jawab dalam urusan rumah tangga suaminya sekaligus urusan anak-anaknya.
Laki-laki dan perempuan memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda sesuai dengan kapasitas yang telah Allah tetapkan. Ketaatan masing-masing terhadap peran dan tanggungjawab tersebutlah yang akan menentukan kemuliaan dan derajat seseorang. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. (QS al-Hujurat [49]: 13)

Rujukan
1.                www.citraindonesia.com/ 6 januari 2011)
2.                (Al-MAlik,Abdurrahman.,as-Siyasatu al-qtishadiyahtu al Mutsla,hal 176.1963)
3.                Lihat Abdul Azis al-Badriy.Hidup Sejahtera dalam Naungan Khilafah,cet ke-7,1998,Gema Insani Press,hal 36)
  1. (Diriwayatkan dari Abu Yusuf dalam kitabnya al-Kharaj, hal 144)
  2. ibid
  3. ibid
7.                Lihat Abdul Azis al-Badriy.Hidup Sejahtera dalam Naungan Khilafah,cet ke-7,1998,Gema Insani Press,hal 36)
  1. (Orang NonMuslim yang hidup dalam naungan Negara Khilafah,hal 39)