Minggu, 24 Juni 2012

Agar Ramadhan Tidak Sia-Sia


DARI DAPUR HATI UMIRA
Assalamu’alaikum sob..

Yak, finally tulisan ini jadi juga. Perlu diketahui pemirsa, saya nulis artikel singkat ini harus dengan batingan. Bantingan nahan ngantuk, bantingan karena ide nggak keluar-keluar (douuuh lebai amat!!). Maklum, lama nggak dapet amanah nulis. Buletin Metanoik yang biasa ‘mbengoki’ saya buat nulis, sekarang udah pindah tayang (berarti saya pesanan ya?). hehe..

Nah, kalau senja biru edisi sekarang ini kerjaan anak media KMMP nih. Untuk kali ini saya nggak mau menyuguhkan gaya bahasa yang melangit-langit pun nggak mau menyuguhkan tingkah 7**on yang tingkahnya kamse-upay kayak edisi sebelumnya. iiihhh.. Berhubung tema yang dipesan adalah ramadhan, maka lagi-lagi saya harus bantingan nyari peta konsep kajian 4 tahun yang lalu. Kebetulan judulnya Agar Ramdhan Tidak Sia-Sia. Penasaran kan? Langsung aja.. wink win..
---

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Qs. Al-Baqarah:183).

Jl. RA. Kartini 15 tampak tak seperti biasanya. Hari itu, di depan kantor Kejaksaan Negeri Bantul ratusan bahkan ribuan botol menggunung tinggi. Botol-botol tersebut sudah berada di depan Kantor Kejaksaan sejak semalam. 

Sekitar pukul 8 pagi, beberapa petugas mulai mengeksekusi botol-botol yang diambil dari beberapa tempat lokalisasi di daerah Bantul itu. Bau yang dikeluarkan dari pecahan botol jelas membuat masyarakat sekitar merasa terganggung. Luberan air bahkan mencapai kompleks SMA N 2 Bantul dan sangat mengganggu kegiatan belajar mangajar.

Hmm.. sob, itu kejadian sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih muda (terpaksa ngaku kalau sekarang udah tua, hehe). Waktu itu seminggu menjelang bulan ramadhan. Jujur saya merasa risih jengkel dan bengong. Risih karena saya pulang pergi ke sekolah naik sepeda mau nggak mau harus menegak bau terlaknat itu. Jengkel karena.. lagi-lagi saya harus melintasi depan kantor kejaksaan. Bengong karena sebanyak itukah kemaksiatan di kota Bantul. Dan lebih begongnya lagi, kenapa patroli hanya dilakukan menjelang bulan ramadhan.

Ngomongin soal bulan ramadhan, bulan ramadhan memang istimewa dari bulan-bulan yang lainnya. Di bulan itu Allah menurunkan kitabNya, hanya di bulan ramadhan pula diturunkan malam lailatul qadr yang lebih baik dari seribu bulan. Syaithan dibelenggu dan pintu surga dibuka seluas-luasnya. Bahkan satu kebaikan yang biasanya dibalas satu pahala, akan dibalas oleh Allah hingga 700 kali lipat, waow.. Di bulan itu, Allah menjanjikan rahmat pada 10 hari pertama, sepuluh hari kedua Allah menjanjikan ampunan, dan sepuluh hari ketiga Allah menjauhkan kita dari api neraka. Waaa..Subhanallah..

Bayangin aja kalau kita mau kedatangan tamu dan kebetulan tamu itu adalah orang penting, Pak Bupati mungkin, sodara dari jauh, pak mentri, atau malah calon mertua. Tentu persiapannya kudu jauh-jauh hari, semaksimal dan seoptimal mungkin supaya tamu yang datang ke rumah kita merasa betah. Begitu pula seharusnya seorang muslim ketika bulan ramadhan tiba. Kita merasa gembira, antusias, ingin 11 bulan yang lain juga seperti bulan ramadhan, dan lain-lain.

Sob, tapi ada juga loh temen-temen kita yang menganggap bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang biasa-biasa aja. Jumlah mereka banyak, sangat banyak. Mereka berpuasa, tapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya. Mereka seperti apa yang disebutkan rasulullah dalam sebuah hadist beliau “Berapa banyak orang-orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkana papun dari puasanya, melainkan hanya lapar dan dahaga”. Dan di hadistnya yang lain “Sungguh rugi dan celakalah mereka yang menemui bulan ramadhan, mereka berpuasa di dalamnya, namun ketika dia tinggalkan ramadhan, dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah swt.”

Masya Allah.. na’udzubillahimindzalik..duuh, jangan-jangan kita termasuk yang didalamnya lagi. Ah jangan sampe deh. Makannya kita harus ngeh ngapain sih kita berpuasa di bulan ramadhan? Apakah berpuasa sekedar menahan lapar dan haus di siang hari doang? Apakah bulan ramadhan itu berarti kita nggak boleh berkata-kata kotor, nggak boleh marah? Apakah berarti kalau di bulan ramadhan miras itu haram, lokalisai ditutup?

Allah yang memerintahkan kita untuk berpuasa di bulan ramadhan pernah ngasih pesan di Qs. Al-Baqarah :183. Bunyi ayatnya ada di atas. Nah.. di ayat itu dengan begitu terang Allah menjelaskan tujuan kita berpuasa adalah “agar kamu bertaqwa”.

Pernah ada spanduk yang berbunyi “Bulan Ramadhan maksiat berhenti dulu.. setelah ramadhan dilanjutkan lagi.. berhentinya”. Tapi faktanya yang dilanjutkan adalah maksiatnya. Lihat saja, kasus korupsi semakin tumbuh subur, pornografi semakin menggurita, kasus narkoba semakin menggila. Anehnya kasus-kasus di atas 100% difasilitasi oleh negara. Grasi yang diberikan oleh presiden SBY untuk Schapelle Leigh Corby, si dedengkot mariyuana 20 kg, dari hukuman 20 tahun penjara menjadi 7 tahun penjara semakin membuka mata dunia bahwa di Indonesia makanan memabukkan itu halal. Duuuh..

Apalagi ulah Menkes, Nafsiah Mboi, yang mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom semakin bikin dunia mabok. Nggak usah dibayangin deh kalo kebijakan ini bener-bener dilaksanakan. Jelas perzinahan legal, halal, kan nggak ada sanksinya, difasilitasi lagi. Alamaaaak..

Padahal sudah sepanjang usia bulan ramadhan hadir setiap tahun, tapi nggak juga bertaqwa. Bulan ramadhan datang, dan kemudian pergi dengan kesia-siaan. Puasa kita gagal, puasa kita sia-sia. Menurut artikel yang saya peroleh nih, ada beberapa sebab mengapa puasa kita gagal. Salah satu dari sebab itu adalah menganggap bahwa berpuasa itu sekedar untuk menggugurkan kewajiban tahunan, tapi tidak tahu kenapa berpuasa.

Selama ini kita tahu bagaimana berpuasa tapi tidak tahu mengapakita berpuasa. Sejak jaman kiwari kita sudah ditanamakan bahwa puasa adalah menahan lapar dan haus, menahan marah, menahan nafsu, blablabla.. tapi kita nggak dipahamkan mengapa kita berpuasa.

Baiklah akan saya cuplikkan khutbah rasulullah, kata beliau “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah, bulan paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Jam demi jam adalah jam-jam paling utama. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amalan-amalanmu diterima dan do’a-do’amu  diijabahi. Bermohonlah kepada Allah dengan ikhlas dan hati yang suci agar Allah membimbingmu dalam puasa dan membaca kitabNya. Celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan agung ini. Kenanglah rasa lapar dan hausmu, dengan rasa lapar dan hausmu dihari kiamat.”

Sob, kehidupan adalah kesempatan untuk memupuk pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya dan menghilangkan sebersih-bersinya setiap beban dosa yang mendatangkan siksa dan kesedihan di akhirat. Puasa ramadhan adalah untuk menjadikan seseorang seorang hamba yang bertaqwa. Di bulan inilah kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan Allah terbuka lebar.

Sudah seharusnya ketika datang bulan ramadhan kita maknai sebagai kebutuhan kita terhadap ampunan dan pahala Allah, bukan karena kewajiban. Jika bulan ramadhan ini kita maknai sebagai kebutuhan, maka insya Allah keikhlasan akan kita raih dalam melaksanakan perintah Allah, karena kita butuh ampunan dan pahala. Dorongan semacam ini akan memotivasi kita supaya amal kita menjadi amal yang terbaik. Bahkan bangun malam yang biasanya ogah-ogahan, karena kebutuhan kita terhadap pahala Allah yang dikalilipatkan hingga 700 kali lipat, dengan sendirinya kita akan ringan menjalaninya. Beda kalau aktivitas bulan ramadhan itu sekedar untuk menggungurkan kewajiban, bisa jadi ibadah kita minimalis.

Diantara hikmah berpuasa yakni menjadikan akal dan hati sebagai raja atas nafsu. Ketika akal dan hati menjadi raja, maka pribadi bertaqwa akan teraih. Seluruh perintah pasti bisa dilakukan, sedangkan untuk meninggalkan larangan tidak dibutuhkan kemampuan tapi kemauan. Nafsu akan tunduk di bawah kendali akal dan hati. 

Hikmahnya yang lain adalah merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Senantiasa mengingat akan adanya penghisaban, dimana kaki, tangan, mata kulit akan bersaksi di hadapan Allah.
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah  mereka kerjakan dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ kulit mereka menjawab; ’Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepadanyalah kamu dikembalikan’”. (Qs. Fushilat : 20-21)

Semoga pribadi bertaqwa kita raih, semoga ramadhan ini adalah ramadhan terakhir tanpa keberadaan Institusi Islam; Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala min hanjinnubuwah..


2 komentar: